Jalan Kemerdekaan dari Ruang Kelas

Oleh: M. Zainudin Aklis

Terjajahnya sebuah negara dapat disebabkan oleh tingkat pendidikan yang belum sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan menjadi jalan menuju kemerdekaan. Melalui pendidikan, manusia mengerti yang benar serta dapat menolak laku kesewenangan para penjajah. Jalan dapat ditempuh melalui proses belajar di sekolah yang berada di ruang-ruang kelas. Hingga sekarang ruang kelas masih dipercaya dapat memberi sebuah kemajuan bagi siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan juga psikomotorik bagi para siswa.

Sebelum kemerdekaan diraih, negeri ini telah menerapkan pendidikan di dalam ruang kelas. Di dalam buku St. Sularto yang berjudul Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas, mengisahkan tiga tokoh yang terdiri dari Willem Iskandar, Engku Mohammad Syafei, dan Ki Hadjar Dewantara yang mendidik generasi bangsa di ruang kelas, para tokoh ini melakukan pergerakan itu untuk meraih kemerdekaan.

Melalui keyakinan dengan samanya tingkat pengetahuan orang pribumi dengan penjajah, maka kemerdekaan akan tercipta, Willem Iskander melakukan pergerakan dengan mendirikan sekolah Kweekschool Voor Inlandsch Onderwijzers (Sekolah Guru Bumiputera) Tanobato atau Kweeksschool Tanobato pada 5 maret 1862 di Mandailing Sumatera Utara. Di sini Willem telah melihat pentinya peranan guru dalam mendidik siswa untuk tujuan jangka panjang, meraih kemerdekaan.

Seabad kemudian gagasan Willem masih diakui oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso yang menyampaikan bahwa “satu guru yang pinter akan menghasilkan setidaknya 100 murid yang pinter. Satu guru yang bodoh menghasilkan setidaknya 100 murid yang bodoh.” Ini menandakan bahwa ruang kelas masih dipercaya untuk menempa siswa-siswa, tentu dengan guru yang mumpuni.

Jalur pendidikan juga ditempuh oleh Engku Mohammad Syafei yang mendirikan sekolah bernama Institut Nasional Syafei (INS) Kayutaman. Mereka memulainya di ruang kelas akan tetapi Syafei mempunyai gagasan yang berbeda dengan Willem. Di sekolahan, Ia menekankan kepada siswanya untuk memiliki kemampuan intelektual, kepekaan, serta keterampilan. Dari ketiga ini, Syafei berharap nantinya akan melahirkan generasi yang merdeka dan juga bertabat. Sebab, selain memiliki intelektual dan kepekaan, siswa juga dibekali dengan keterampilan yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup untuk bekerja.

Dari sekolah ISN Kayutaman ini, kita dapat melihat jika Syafei telah menjadi peloror telahirnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Memang sekolah model seperti itu pernah berada di persimpangan jalan, sebab adanya yang mempertanyakan berapa besar peluang masuk perguruan tinggi. Namun, dengan seiring perubahan zaman serta tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belakangan sekolah seperti itu banyak diminati.

Setiap waktu pendidikan harus menyesuaikan zaman. Ketika penjajahan masih berlangsung, Ki Hadjar Dewantara telah memadukan antara pendidikan Eropa yang modern dan kebudayaan tradisional Jawa. Sebagai pendiri Tamansiswa, Ki Hadjar sadar betul jika pendidikan dan pengajaran menjadi upaya sengaja dan terepadu untuk memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah. Maka, sistem among yang diterapkan sangat cocok bagi pendidikan di Indonesia. Sebab, di dalamnya tiada paksaan bagi siswa, sehingga akan memunculkan rasa merdeka.

Tamansiswa bukan hanya sebagai tempat mencari ilmu, tetapi juga digunakan untuk belajar hidup dan tempat bersama-sama mewujudkan satu pergaulan hidup. Selain itu, Tamansiswa juga dibangun untuk membangun manusia baru, menyiapkan tenaga pejuang kemerdekaan, pembela kemanusiaan dan kebeneran, tempat menempa anak-anak Indonesia dengan semangat merdeka dan jiwa kebangsaan.

Ketiga tokoh di atas memilih jalan pendidikan dalam meraih kemerdekaan. Pasang surut telah mereka lalui hingga membuahkan gagasan yang hingga kini masih diterapkan. Ini merupakan tanda jika kita sebagai bangsa telah mempunyai tokoh pendidikan yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia, sehingga tidak silau oleh kemajuan negara lain yang membuat kita untuk meniru sistemnya.

Kepercayaan terhadap pendidikan yang telah diajarkan para pendahulu harus tetap dipegang teguh dan ditanamkan kepada para penerus bangsa agar memiliki pijakan pendidikan yang pasti serta tidak kehilangan arah. Selain itu, agar tak tertinggal oleh negara lain, upaya pembaharuan-pembaharuan harus mengikuti perkembangan zaman yang selalu berubah-ubah setiap waktunya.

Memang secara isi buku berjudul Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas ini masih belum membahas secara lengkap sejarah tiga tokoh yang di dalamnya, namun setidaknya iktiar-ikhtiar untuk menghidupkan nama-nama tokoh yang sudah banyak dilupakan merupakan upaya mengembalikan semangat pendidikan di negara ini.

St. Sularto di dalam buku ini tidak hanya mengungkapkan pendidikan di masa lalu. Namun, di buku ini ia juga menghadirkan informasi aktual mengenai perkembangan sekolah-sekolah yang telah lama didirikan oleh para aktivis pendidikan di masa lalu. Sehingga pembaca dapat memahami jalan perjuangan para pendahulu. Buku St. Sularto yang menceritakan tiga tokoh di dunia pendidikan dapat menjadi pegangan bagi para aktivis pendidikan serta masayarakat umum lainnya.[]

Kartu Tanda Buku (KTB)

Judul                     : Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas

Penulis                 : St. Sularto

Penerbit              : KOMPAS

Cetakan               : Pertama

Tebal                     : 226 Halaman

(Resensi buku ini terbit di Majalah Vokal edisi #36 “Kabar Dari Pesisir” 2016)