Hutan, Pohon, Kita

Oleh : Ali Maksum

“Hampir seluruh jalan yang berlari

Kukejar. Dan aku bersama istri dan anakku,

Mengkhianati kepedihan pohon-pohon

Yang telah terbongkar traktor, demi keindahan yang lain,

dan atas nama modernisasi…”

__________________________________________

Dari puisi Opera Pohon (1990) karya Abdul Wachid B.S, kita membaca peristiwa penghabisan pohon untuk membangun jalan-jalan penghubung antartempat. Pohon-pohon dihabisi dengan dalih pembangunan, apartemen-apartemen, pusat perbelanjaan dan hotel. Pohon sengaja dihilangkan namun berusaha dimunculkan kembali dalam wujud lain. Cobalah sekali-kali main ke pusat perbelanjaan kota atau hotel, di sana kalian akan menemui sebuah tempat yang seolah dikonsep serba hijau dengan menghadirkan tanaman dan bunga. Kalian tidak usah membayangkan tanaman itu asli atau hanya imitasi.

Pohon mangga sering kita temui di sekitaran rumah, kaum ibu rumah tangga di desa sering kita temui aktivitas petan (mencari kutu rambut) selain di emperan rumah juga di bawah pohon. Kita tidak akan menjumpai hal itu di kota, di kompleks-kompleks perkotaan, karena pepohonan telah habis karena sengaja dihilangkan.

Sekarang kita sudah agak kesulian menemui pohon yang rimbun dan liar di sekitar rumah, apalagi di kota. Pohon-pohon dirobohan atas nama modernisasi dengan mengabaikan kebermanfaatannya.

Daoed Joesoef dalam Emak: Penuturanku dari Kampong Darat sampai Sorbonne (2010) menarasikan arti penting pepohonan di hutan. Daoed sudah diajak ke hutan  sejak usia lima tahun, bersama ibu dan bapaknya. “Hutan ini sudah merupakan bagian dari hidup kami sehari-hari. Di situ kami meramu bahan-bahan yang diperlukan untuk kehidupan, dari mulai sayur-mayur, umbih dan buah tertentu, akar-akar penyebuh tanaman bunga, hingga kayu bangunan dan kayu bakar”.

Hutan menjadi tempat Daoed dan keluarga menggantungkan hidup. Sejak kecil, ia sudah diajarkan orang tuanya untuk dekat dengan alam. Hanya perlu banyak bersabar dan ketekunan yang utuh agar tetap terawat baik. Emak pernah berkata: “Hutan adalah karunia Tuhan yang harus kita syukuri. Jadi merupakan kewajiban kita untuk menjaga dan memeliharaya demi anak cucu. Sedang kita makhluk manusia, adalah wakil Tuhan di bumi.”

Setiap kali seseorang memasuki sebuah hutan, dalam kesadarannya akan timbul perasaan seakan-akan pernah berkunjung. Tidak peduli itu hutan pepohonan jenis apa dan di mana letaknya, selalu timbul keakraban antara satu hutan kepada hutan-hutan yang lain di berbagai tempat. Hutan turut hadir dalam tulisan Goenawan Mohamad yang berjudul Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai. Hutan baginya “wilayah penghabisan di mana Kegaiban masih belum hilang, di mana misteri belum dipetakan”.

Tentu misteri di dalam hutan masih akan menjadi sebuah misteri. Bunyi-bunyian bertebaran seirama dengan alam, mulai dari binatang yang kecil hingga binatang buas semacam harimau yang mengaung di kesunyian mencari buruan. Binatang yang berada di perairan, daratan maupun yang bertengger di pohon sekalipun. Ekosistem alam sudah terbentuk luar biasa indahnya.

Film dokumenter Indonesia Biru (Watch Doc, 2015) merekam orang Baduy dalam menggantungkan hidupnya kepada alam. Pola bercocok tanam yang diharuskan oleh pemerintah—setahun dua kali panen—tidak mereka anut. Suku Baduy memilih melakukan sekali tanam dan panen dalam satu tahun. Dengan seperti itu dipercaya membuat subur tanah yang digunakan. Selain bertanam, mereka juga memanfaatkan hasil kebun yang ada di hutan. dan agar adat Baduy dalam tetap terjaga, mereka melarang penggunaan barang dari luar, termasuk segala sesuatu buatan pabrik. Mereka lebih suka menggunakan daun tertentu untuk mandi di sungai, gosok gigi, dan mengeramasi rambut di kepala.

Saya pun jadi ingat tentang dedaunan yang hadir sebagai obat ketika sakit perut. Ibu mencarikan daun jambu yang masih muda di kebun. Daun ditumbuknya barang sebentar dan saya disuruh menelan ramuan tradisional hasil turun temurun itu. Sembuh! Selain sebagai obat, daun yang untuk makanan sehari-hari juga biasa hadir. Bayam misalnya, menjadi kaya zat besi untuk memperkokoh tulang pada tubuh yang setiap hari digunakan untuk beraktivitas sesuai kebutuhan.

Pohon  Berangan, yang paling akhir kehilangan daunya pada musim gugur, paling akhir pula menghasilkan daun pada musim semi. Bila pohon ini membentangkan daunnya hingga rapat. Bentangan itu menjadi atap dedaunan dan mampu menutup langit. Burung-burung biasanya menjadikan pohon sebagai tempat membuat sarang, bernyayi, dan berkerumun bersama kawanannya. Selain burung, kera menjadi binatang yang paling lihai bergelantungan dari dahan ke dahan dan ranting ke ranting.

Pohon bisa menjadi pertanda pegantian musim. Pada musim gugur salah satu migrasi paling mengesankan adalah migrasi kupu raja Amerika Utara pada musim gugur. Kupu-kupu yang kerap disebut “Sang Pengembara” itu kuat dan mampu terbang jauh dengan kecepatan 32 kilometer per jam atau lebih.  Kupu ini penerbang yang luar biasa kuatnya. Terlihat 320 kilometer dari Inggris, meskipun asal-usulnya bukan dari Eropa. Kupu ini konon sudah terlihat di Asia dan Australia, mungkin terbawa oleh angin, dalam Pustaka Alam Life yang bertema “Hutan”. Segala hal di dalam hutan itu menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk dipelajari, karena kita akan banyak bertemu dengan tumbuhan-tumbuhan dan hewan-hewan yang jarang kita dengar dan ketahui sebelumnya.

Namun dalam menjaga alam perlu kesadaran yang nyata. Banyak peristiwa perusakan hutan menjadi polemik negara yang tak terselesaikan hingga sekarang. Bagi Chico Mandes, aktivis lingkungan Brazil, kematiannya akan lebih berharga jika berada dalam perjuangan menjaga keawetan hutan. Dalam buku terbitan Buku Obor, Berjuang Menyelamatkan Hutan, Chico telah menulis surat terakhir beberapa minggu sebelum dibunuh. Hutan baginya lebih dari segala hal yang dibutuhkan manusia. Harapannya seluruh hutan dipelihara dengan baik, agar masa mendatang dapat terjamin.

Chico awalnya hanya seorang remaja biasa yang buta huruf, bekerja sebagai penyadap karet di tengah-tengah kemiskinan hutan raya Amazona di Brazil. Kerja dan pemikiranya di tengah hutan menempatkanya menjadi seorang pejuang bagi pemanfaatan dan pelestarian hutan dunia. Kematiannya memberikan sebuah gerakan untuk kita, kehidupan dan kematianya telah mengubah namanya menjadi lembaga perjuangan, keyakinan, dan harapan yang lebih baik bagi manusia hutan, dan kita semua. Chico Mandes menjadi contoh nyata dalam memperjuangkan alam bertaruh nyawa dengan penguasa, hingga akhirnya dia terbunuh. Hutan baginya masa depan yang cerah, tepat kembali setelah mati. Kita pun patut bersyukur dengan masih adanya pohon di sekitar kita.

Semoga saja saya, kamu, mereka dan kita semua dapat menjadi manusia yang memahami alam dengan baik.

(Tulisan ini terbit di buku Rembuyung, kumpulan esai “Flora dan Fauna” di Bilik Literasi 11 Maret 2018)