Libur Semester Untuk Magang, PKL, dan KKN?

Penerapan metode ketrampilan ini sudah lama diprektekkan di Universitas PGRI Semarang. Sebenarnya penerapan Magang dan PKL itu hampir sama hanya saja di UPGRIS perbedaan istilah tersebut untuk membedakan antara Fakultas Pendidikan yang menjalankan magangnya di Sekolah dan Fakultas Teknik menjalankan Praktek Kerja Lapangan di Perusahaan atau di Instansi Pemerintahan. Penerapan Magang, PKL, dan KKN dilaksakan setiap tahunnya pada saat libur semester ganjil.

Sebagai Mahasiswa, kita selalu dituntut untuk mengembangkan diri dan membuat inovasi yang nantinya akan menjadi bekal kita untuk terjun ke masyarakat dan membuat kemajuan untuk Bangsa nantinya. Untuk menunjang ketrampilan mahasiswa, pelbagai Universitas utamanya di Indonesia menerapkan adanya sistem magang, PKL (Praktek Kerja Lapangan), dan KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Hal ini yang sering membuat sebagian besar mahasiswa sering mengeluh karena waktu libur mereka tersita untuk kegiatan Magang, PKL, dan KKN. Keresahan itu mereka jalani dengan mengikhlaskan diri menjalani magang dengan sepenuh hati. Belum lagi mereka dihadapkan pada keribetan ketika administrasi dan pembayaran Magang, PKL, dan KKN. Walaupun ada juga yang tidak keberatan dengan diadakannya kegiatan tersebut karena hal tersebut sangat penting untuk mengetahui cara-cara mengajar sebelum terjun ke lapangan, kata salah satu mahasiswa magang.

Dalam penerapan magang atau PKL, sebagian mahasiswa mendapatkan perlakuan baik pihak Sekolah, Instansi, atau Perusahaan. Namun ada juga sebagian dari mahasiswa yang mendapat perlakuan buruk dari Sekolah, Instansi, atau Perusahaan dengan menjadikan mereka sebagai buruh, kejadian ini termasuk dalam tindakan eksploitasi. Sebagaimana dilaporan Tirto.id artikel edisi Eksploitasi Mahasiswa di Taiwan & Magang Rentan jadi Perbudakan (09 Januari 2019), Akhir Desember 2018, situs berita Taiwan News mengabarkan adanya ratusan mahasiwa Indonesia yang mengalami eksploitasi kerja di Taiwan. Legislator Kuomintang (KMT) Kho Chih-en mengatakan bahwa para mahasiswa itu hanya diizinkan untuk mengikuti perkuliahan dua kali seminggu, dan satu hari beristirahat. Setiap hari, mahasiswa tersebut diwajibkan bekerja selama 10 jam dan mengepak 30.000 lensa kontak.

Melihat hal tersebut, kita sebagai mahasiswa harus berhati-hati dalam memilih tempat magang dan juga harus ada pendampingan dari kampus terkait hal itu agar tidak terjadi pemanfaatan magang sebagai tindakan eksploitasi atau perbudakan. (Ahmad Falihul Isbah)