LELAKI HARIMAU DAN KISAH CINTA TAK SETIA


Mending tuku sate timbang tuku wedhuse, mending gendakan timbang dadi bojone.  Lirik dari lagu Wiwik Sagita berjudul Whedus itu, jika kita perhatikan ada beberapa pesan yang bisa dijadikan bahan kontemplasi untuk pendengarnya. Sekilas lirik di atas mengandung makna negatif. Karena mengajak pendengar khususnya kaum wanita, menjadi selingkuhan dari pada menjadi istri yang sah. Akan tetapi, ada hubungan sebab akibat yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis, kenapa wanita memilih jalan untuk selingkuh? Berdasarkan hasil survei faktor dominan munculnya perselingkuhan yang dilakukan oleh Suciptawati dan Susilawati (2005), disebutkan bahwa alasan perselingkuhan terjadi karena kurangnya ketentraman dalam rumah tangga pelaku selingkuh.

Dari lagu Wedhus bila dikaitkan dengan novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, ada beberapa fragmen di novel yang memiliki pandangan sama dengan lagu Wedhus. Keduanya menceritakan alasan kuat mengapa wanita selingkuh. Sebuah perspektif unik di mana biasanya lagu-lagu atau sebuah novel lebih mengisahkan derita perempuan diselingkuhi, di lagu Wedhus dan novel Lelaki Harimau justru sebaliknya.

Jika menengok lagu Wedhus, wanita memilih selingkuh disebabkan karena kepuasan materi belum didapatkan. Namun di novel Lelaki Harimau, alasan wanita memilih selingkuh lebih pada kurangnya kepuasan sexual dan kekerasan dalam rumah tangga yang sering dialami wanita. Maka pada akhirnya ada kemungkinan Wiwik Sagita menggugat posisi perempuan yang selalu dianggap lemah, dengan membuat lagu Wedhus, dan Eka Kurniawan melukiskan penderitaan wanita yang mengantarkannya pada keberanian berselingkuh, melalui novelnya yang berjudul Lelaki Harimau.

Kedigdayaan suami dalam keluarga terlihat sangat real melalui novel Lelaki  Harimau. Bukan berarti dilihat dari judulnya, melainkan dari isi novel yang secara rinci mengulas penderitaan istri atas suami dalam kehidupan rumah tangga. Jika dibandingkan dengan novel Eka sebelumnya, yakni Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, yang hanya menampilkan nafsu bejat laki-laki, novel Lelaki  Harimau lebih dari itu, selain menampilkan kebejatan laki-laki Eka menjelaskan dengan gamblang problematika rumah tangga yang seringkali pelik dan penuh konflik.

Konflik yang terjadi di dalam novel, mulai dari perlakuan kasar suami terhadap istri, keengganan istri melayani suami, suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan intim, perselingkuhan, pembunuhan, sampai pada  kekerasan orang tua terhadap anak. Eka mampu meramu konflik-konflik tersebut menjadi novel yang sederhana tapi seksi. Serta banyak petuah yang secara tersirat dimunculkan di novel tersebut.  Yang lebih menarik dari karya Eka, walaupun novel Lelaki Harimau karya fiksi, namun seluruh konflik yang dimunculkan merupakan fenomena yang sering terjadi sehari-hari di dalam rumah tangga.

Adegan Margio membunuh Anwar Sadat jadi pembuka kisah. Dalam novel ini, Margio menjadi tokoh utama yang bertindak sebagai lelaki harimau. Sedangkan Anwar Sadat adalah ayah dari Maharani, perempuan yang disukai oleh Margio. Pembunuhan yang dilakukan oleh Margio secara abstrak diceritakan oleh penulis. Bagaimana tidak, di dalam novel dikisahkan, Margio tanpa alat bantu pisau, pedang atau bahkan pistol bisa membunuh Anwar Sadat hingga lehernya hampir putus, dan dagingnya terkoyak, berserakan dilantai. “Ia bergidik membayangkan bagaimana bocah itu memeluk Anwar Sadat dan rahangnya kuat mencengkeram leher” (hal 6). Adegan yang digambarkan pada saat Margio membunuh Anwar Sadat menjadi hal surreal dihadapan pembaca. Terlebih penulis menuturkan pada saat Margio membunuh lawannya, ada seekor harimau putih yang memasuki tubuh Margio.

Kebencian Margio terhadap Anwar Sadat berawal dari perselingkuhan yang dilakukan Nuraeni, ibu kandung Margio dengan lelaki yang telah dibunuhnya itu. Perselingkuhan terjadi bukan karena kegatalan Nuraeni, akan tetapi lebih pada kebringasan Anwar Sadat. Setiap kali Nuraeni datang ke rumah Anwar Sadat untuk menjadi pembantu, Anwar Sadat kerap menggoda Nuraeni ketika di rumah tersebut hanya ada mereka berdua. Memang sikap mata keranjang Anwar Sadat sudah diketahui banyak orang, meskipun beristrikan bidan dan mempunyai tiga putri yang cantik jelita, Anwar Sadat dikenal sebagai lelaki pemalas yang tidak bekerja tetapi suka meniduri berbagai wanita tanpa menikahinya.

Sikap Nuraeni yang pasrah ketika dijamah oleh Anwar Sadat bukan tanpa alasan. Ia melakukan hal itu karena sepanjang hidup bersama Komar suaminya, tidak pernah merasakan sentuhan selembut perlakuan Anwar Sadat. Justru sebaliknya, Nuraeni kerap dipukuli dan disabet pakai rotan hingga babak belur jika tidak mau melayani birahi suaminya. Dan,ia lebih tepatnya sering diperkosa suaminya sendiri, karena hubungan intim keduanya dilakukan bukan atas dasar suka sama suka.

Ternyata tindakan kejam Komar bin Syueb kepada Nuraeni bukan hal yang asing lagi bagi Margio. Perlakuan kasar yang sering menimpa ibunya sudah menjadi hal biasa di rumah Margio. Karena, tingkah laku Komar yang tidak waras menimbulkan perasaan benci Margio terhadap ayah kandungnya sendiri. Sampai ayahnya meninggal Margio tidak sedikitpun merasa berkabung. Suasana dikeluarganya yang tidak pernah tentram  menjadikan Margio menjadi sosok pendiam dan kerap mabuk dimalam hari.

Kekerasan

Ada banyak adegan kekerasan yang disuguhkan penulis dalam novel Lelaki Harimau. Korban dari kekerasan itu sendiri adalah orang-orang terdekat. Dari tingkah bengis tokoh Komar melahirkan konflik berkepanjangan dalam novel. Watak sadis Margio yang telah membunuh Anwar Sadat, barangkali tertular dari sikap ayahnya yang kejam terhadap istri dan anak. Sedangkan perselingkuhan yang dilakukan Nuraeni merupakan pelarian dirinya dari jerat kekerasan dari suaminya sendiri.

Deskripsi yang penuh kekerasan menjadikan novel Lelaki Harimau benar-benar menyeramkan, namun tidak perlu ditakuti, justru adegan-adegan di dalamnya menjadi bahan perenungan. Bahwa ketentraman keluarga adalah aset yang berharga bagi kehidupan seseorang, bila aset berharga itu hilang maka akan datang kekacauan yang bertubi-tubi.

Dari pengisahan yang detail dengan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, novel ini bisa menjadi bacaan masyarakat umum, tidak harus terpelajar. Selain itu, setelah membaca novel setebal 191 halaman, pembaca akan terdorong untuk menengok sebentar kondisi keluarganya dan lingkungannya. Apakah yang dialami Margio terjadi pada keluarganya sendiri? ataukah peristiwa tersebut kerap terjadi di lingkungannya?.

*Nurul Isnaeni Putri