Perkembangan Teknologi Menyulut Api Kecil Plagiarisme ?

Istilah plagiarisme bukanlah hal asing lagi bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sudah tahu apa itu plagiarisme. Namun, seakan mengesampingkan  pengertiannya tanpa lebih dulu mempertimbangkan hal buruk dari kegiatan plgiarisme.  Plagiarisme sering terjadi di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa S1.  

Pengertian plagiarisme itu sendiri menurut Wikipedia (2019) merupakan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikan seolah karangan dan pendapat sendiri. Secara singkat plagiarisme diartikan sebagai penjiplakan. Seseorang yang melakukannya disebut dengan plagiat.

Secara etimologi  , Marcus Valerius Martialis adalah seorang tokoh penyair dari Roma yang pertama kali meyebut istilah Plagiaru, yang memiliki artian mencuri karya orang lain. Kemudian istilah plagiarus yang berasal dari bahasa latin tersebut di kembangkan menjadi plagiarisme (Wikipedia, 2019).

Dilansir dari berita online Tempo.co (edisi 18 Februari 2014  yang bertajuk  8 Kasus Plagiat yang Menghebohkan Indonesia) kasus  plagiarisme sudah ada sejak jaman dulu. Seorang  penyair handal sekaliber Chairil Anwar  pernah diduga melakukan plagiarisme. Tuduhan plagiarisme kepada Chairil Anwar di keluarkan oleh Hans Bague Jassin dalam tulisannya yang  dimuat dalam Mimbar Indonesia yang bertajuk Karya Asli, Saduran, dan Plagiat. Jassin membandingkan puisi Chairil yang berjudul “Kerawang-Bekasi”  dengan The Dead Young Soldiers karya penyair asal Amerika yaitu Archilbad MacLeis.

Meninggalkan kasus Chairil Anwar, sekarang ini perkembangan  arus teknologi  informasi semakin canggih . Dengan adanya perkembangan teknologi, alat komunikasi juga pasti berkembang. Hadirnya alat komunikasi berupa komputer, laptop dan gawai/ gadget  membuat manusia menjadi lebih praktis dalam segala aktivitas.

Maka dengan itu, mahasiswa yang termasuk bagian dari manusia itu sendiri dapat merasakan efek perkembangan teknologi. Gawai adalah salah satu alat komunikasi yang tentunya dimilki oleh setiap mahasiswa. Melalui gawai, segala aktivitas bisa dilakukan. Banyangkan saja, mereka bisa  mendengarkan musik, membaca berita, mengirim pesan, dalam satu waktu. Gawai dilengkapi dengan perangkat yang bisa mengakses internet. Jika mengambil dari pribahasa  Indonesia, gawai  tanpa akses internet bagai sayur tanpa garam. Keduanya menjadi dua  variabel yang  saling terhubung dan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa.  

Seperti mata uang,  adanya perkembangan teknologi informasi juga memiliki dua sisi. Sisi negatif dan positif.  Dilansir dari Kompasiana.com (edisi 12 Mei 2018 dengan judul Dampak Positif  dan Negatif Adanya Teknologi) , ada beberapa dampak positif dari perkembangan teknologi informasi. Dampak positif yaitu, dapat mencari dan memperoleh informasi dengan mudah dan cepat, menghemat  waktu, efisien dan efektif dan sarana hiburan yang murah. Sedangkan dampak negatif bisa diperoleh dari dampak positif yang digunakan secara berlebihan. Penggunaan gadget yang berlebihan untuk hal yang kurang bermanfaat membuat  minat membaca seseorang menjadi turun.

 Bagi mahasiswa,  apabila tidak dapat menggunakan teknologi sesuai fungsi sebenarnya secara bijaksana dapat mengakibatkan  ketergantungan pada teknologi  dalam mendapatkan informasi, dan berpotensi melakukan plagiarisme (Rizky, 2017).

Semakin bertambahnya semester, kesibukan mahasiwa akan lebih banyak. Jadwal kuliah yang padat, tugas  yang menumpuk ditambah  dengan segala organisasi yang diikutinya. Banyaknya tugas yang dibebankan kepada mahasiswa membuat mereka melakukan hal yang praktis. Ditambah deadline yang hanya sebentar membuat mahasiswa mengerjakan tugas dengan mengcopy paste dari internet. Tanpa mencantumkan nama penulis didalamnya.  Mereka lebih dominan mencari informasi lewat gadget  dibandingkan  membaca buku sebagai sumber literatur.

Sebut saja Mawar, mahasiswa program studi  X, Universitas PGRI Semarang kerap kali melakukan plagiarisme. Menurutnya hal itu dilakukan agar mempermudah pekerjaannya dalam mengerjakan tugas.

Selain itu, ada banyak faktor lain yang membuat mahasiswa melakukan tindakan plagiarisme. Tentunya tindakan plagiarisme bukanlah hal yang patut di pertahankan.

Cucianingsih

Sumber :

Kompasiana. (2018). Dampak Positif dan Negatif Adanya Teknologi. Jakarta: Kompasiana.

Rizky, R. (2017). Perilaku Plagiarisme Di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri Di Indonesia. JURNAL Fis.IIP15 18 Riz p , 3.

Tempo.co. (2014). 8 Kasus Plagiat Yang Menghebohkan Indonesia. Tempo.co. Jakarta: Tempo.co.