Pelangi Di Tanah Kimaam

Sepasang mata memandang kearah langit, ia menengadahkan tangan.

 Perlahan, setetes air mata itu jatuh tepat di telapak tangannya. Lalu dengan lirih ia berkata,

 “Kapankah pelangi itu bernar-benar akan datang?”

Akira Valensia, seorang mahasiswa semester akhir dari salah satu universitas swasta ternama di Indonesia. Perempuan nan cantik jelita dengan sikap lembut dan hati  mulianya.  Dia terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang akan melakukan penelitian di daerah Papua, tepatnya di Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke yang merupakan salah satu dari ribuan daerah tertinggal di Indonesia.

Pulau Kimaam, suatu daerah yang mungkin terdengar asing di telinga. memiliki luas kurang lebih 1,5 juta ha. Pulau dengan keindahan alamnya yang khas beserta sumber daya alamnya yang sangat  melimpah. Pekikan warga asli dikala senja makin menambah keasyikan jika berada di sana. Hal itu menjadikan para investor ‘tergila-gila’ untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut. Meskipun begitu, kehidupan masyarakat Kimaam tidaklah semakmur yang kita bayangkan. Mulai dari pendidikan yang masih rendah, fasilitas yang masih sangatlah minim serta sarana dan prasarana yang sangat kurang. Mungkin hal ini bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan daerah tepat tinggal Akira yang semuanya serba tersedia. Bahkan, untuk kesehatan saja sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah setempat. Di tambah lagi tidak adanya listrik yang semakin menambah keterpurukan daerah dengan sejuta keindahan ini.

Sebagai calon guru, Akira harus membuktikan pengajarannya di daerah yang sangat terpencil itu dengan cara mengabdikan diri di sana selama beberapa waktu. Akira tidak sendiri. Ia bersama dengan rekannya, Septino Aji yang terpilih karena prestasi yang membanggakan sebagai mahasiswa terbaik dan dirasa mampu untuk melakukan penelitian ini. Ini tidak kali pertama universitas tersebut mengirim mahasiswa-mahasiswa terbaiknya untuk melakukan sebuah pengabdian di daerah terpencil. Bahkan, setiap mahasiswa yang telah menyelesaikan tugasnya, pastilah mereka membuat suatu perubahan di daerah-daerah tertinggal yang mereka kunjungi. Sungguh sebuah kerja keras yang sangat membanggakan.

 Kali ini giliran Akira dan Tino, yang diharapkan dapat membuat suatu perubahan di Daerah Kimaam. Untuk sampai di daerah ini tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang lumayan lama serta menguras energi, yaitu dapat menggunakan pesawat regular, jalur darat atau dengan menggunakan kapal kayu kecil selama belasan jam. Perjalanan yang cukup sulit hanya untuk sampai di daerah yang akan mereka kunjungi.

Perjalanan yang mungkin cukup panjang dan melelahkan. Akira dan Tino berangkat dari Jakarta jam 8 pagi setelah mengecek kembali semua keperluan yang diperlukan selama tinggal di Kimaam. Mereka merasa sebuah petualangan baru akan dimulai, ke negeri antah berantah, sebuah tempat dimana kabar seram saja terekam, sebuah negeri dengan kekerasan dan budaya yang primitif. Berdebar dan sedikit ngeri dalam hati. Tapi, semua itu tidak cukup untuk meruntuhkan semangat Akira dan Tino untuk mengetahui seluk-beluk, khususnya pendidikan yang ‘katanya’ masih sangat rendah di Tanah Kimaam.

Mungkin awalnya akan terasa sangat berat untuk tinggal di Kimaam. Untuk orang-orang kota seperti Akira dan Tino yang sudah terbiasa hidup berkecukupan. Namun, mereka merasa ini adalah sebuah tantangan bagi mereka. Sebuah langkah baru untuk memberikan pendidikan yang menjanjikan bagi anak-anak Kimaam. Mereka tak akan mendapatkan awan kelabu lagi. Akira dan Tino datang untuk memberikan keindahan pelangi untuk masa depan mereka.

***

Tepat pukul 7 pagi, Akira sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta.

Tino melihat Akira duduk di bangku yang tersedia di ruang tunggu. Ia berjalan menghampiri Akira. “Hai, kamu sudah siap?” sapanya ketika sudah berada di depan Akira.  

Akira mendongak melihat siapa yang menyapanya. “Eh, kapan sampai sini?” tanya Akira balik.

Tino mengambil posisi duduk di samping Akira. “Baru. Gimana kamu sudah siap?” ulang Tino. Akira hanya mengangguk mengiyakan.

Tino mengerutkan alisnya sambil menatap Akira. “Kamu kenapa?”

Akira enggan menatap Tino. Ia lebih memilih memandangi orang-orang yang berlalu lalang keluar-masuk bandara. “Sebenarnya aku takut.” Tino sudah menduga apa yang tengah dirasakan oleh Akira. Padahal, sebelumnya Akiralah yang paling bersemangat. Tetapi, Tino tahu, Akira hanya seorang gadis biasa. Siapapun dia, pasti akan sangat khawatir jika harus tinggal di Kimaam, sebuah daerah yang masih terdengar asing dan serba minim itu.

“Aku tahu, kita bisa melewati semua ini. Kamu harus semangat. Kita harus menaikkan derajat pendidikan di Kimmam. Kita harus membuat suatu perubahan besar di sana, dan jangan sampai kita pulang hanya dengan tangan hampa saja.” ujar Tino dengan bersemangat.

Sesampainya di tanah Kimmam, Akira dan Tino disambut dengan hangat oleh warga Kimaam. Mereka sangat gembira karena akan ada keluarga baru yang tinggal di sana. Bukan hanya itu, mereka gembira karena Akira dan Tino akan memberikan pendidikan untuk anak-anak di daerah Kimaam. Acara sambutan bagaikan menyambut seorang tamu yang sangat penting karena begitu meriah, penampilan tarian-tarian daerah yang penuh dengan sejuta makna sebagai pembukaan.

“Saya harus berterima kasih kepada Akira dan Tino yang rela tinggal di daerah seperti ini hanya untuk memberikan sebuah pendidikan untuk anak-anak kami. Kami meminta maaf, tidak bisa memberikan fasilitas yang layak untuk kalian. Namun, kami akan memberikan pelayanan yang maksimal sebagai tanda terima kasih kami untuk kalian.” ucap Kepala Daerah ketika pidato penyambutan.  

Acara penyambutan diakhiri dengan upacara penyambutan oleh warga Kimaam sendiri. Ini pengalaman baru yang dirasakan oleh Akira dan Tino. Untuk pertama kalinya Akira dan Tino menapakkan kakinya di Tanah Kimaam. Sungguh hati mereka seperti teriris sebilah pisau. Mereka merasa miris sekali melihat keadaan di Kimaam. Sangat menyedihkan. Tak terasa, Akira menitikkan air matanya. Setelah selesai upacara, Akira dan Tino diantar ke rumah yang sudah dipersiapkan untuk mereka tinggali selama berada di daerah ini.

“Selamat datang di desa kami, semoga Nak Akira dan Tino betah dan nyaman di sini.” ujar Kepala Daerah dengan ramah saat mengantarkan Akira dan Tino.

Akira tersenyum hangat lalu berkata, “Saya dan Tino benar-benar berterima kasih kepada Bapak dan juga seluruh warga di sini atas penyambutannya yang luar biasa kepada kami.”

Kepala Daerah itu mengangguk senang. “Baiklah, itu rumah yang kami siapkan untuk kalian. Semoga kalian nyaman dan betah tinggal di sini. Maaf, mungkin rumah ini terlalu kecil dan tidak sebanding dengan rumah kalian yang ada di kota sana, namun kami sudah membersihkan, merapikan, dan berusaha agar kalian nyaman dan betah tinggal di sini.” ujarnya sambil membuka pintu rumah berwarna coklat kusam tanda sudah terlalu lama pengecatannya.

“Iya Pak, kami juga terima kasih banyak. Ini sudah lebih dari cukup untuk kami.” Ujar Tino dengan sungguh-sungguh.

Rumah yang disediakan sebenarnya memang jauh dari kata layak. Atap yang sudah hampir rapuh dan terlihat bocor di sana-sini. Tembok yang retak dan catnya yang sudah mulai usang. Bahkan untuk listrik, di daerah seperti ini tentu belum mengenal listrik. Untuk penerangan sehari-hari, mereka hanya menggunakan alat seadanya. Akira dan Tino sempat kaget bahkan sempat tidak nyaman melihat keadaan ini. Mengingat selama ini mereka tinggal di perkotaan yang nyaman, listrik dan air yang berkecukupan bahkan tak akan takut habis, makanan yang tak pernah susah di cari. Hal ini bagaikan 180 derajat dengan kehidupan yang biasa mereka jalani. Sekarang ini, ia merasakan benar-benar dalam keadaan susah hidup. Banyak kekhawatiran yang dirasakan Akira dan Tino, banyak bayangan-banyangan yang membuat hatinya tak tenang karena merasa belum mengenal tempat ini. Namun, mengingat betapa antusiasnya warga ketika kedatangan mereka, semua pikiran-pikiran itu ditepisnya dengan segera.

Akira dan Tino disediakan dua rumah yang berdempetan. Bukan mengapa, karena Akira dan Tino tidak memiliki hubungan seperti suami istri ataupun kakak beradik. Daerah ini memiliki hukum adat dan peraturan yang masih ketat, salah satunya dilarang satu atap seorang yang tak memiliki hubungan. Hukuman di sini juga masih berlaku misalnya akan dinikahkan jika hal itu terjadi. Hari semakin larut, Akira dan Tino berusaha menyesuaikan diri. Benar-benar berusaha menyesuikan diri berada di daerah ini. Sang penguasa langit  malam ditemani jutaan bintang  yang  bertaburan  dihamparan  langit  semakin menambah  keindahan di sini. Desiran halus angin malam beserta suara jangkrik-jangkrik yang bersautan bagaikan pengantar tidur yang sangat sempurna untuk mereka.

***

Suara kokokan ayam terdengar memekakkan telinga dan diiringi mentari yang menyingsing dari ufuk timur. Semburatnya tampak berkilauan di perairan Kimaam.  Udara masih segar serta kicauan burung-burung yang berasal dari hutan sebelah desa menambah suasana yang terasa menenangkan, memberikan semangat baru di hari yang baru.

Akira bangun dengan susah payah ketika mendengar ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Beberapa kali dia mencoba mengumpulkan seluruh nyawanya untuk mencapai pintu depan. Sesuatu aroma menguar di indera penciuman dan segera menyentuh saraf-sarafnya, sinyal-sinyal itu membuat nyawanya serentak mengumpul.

Akira mengerjap-ngerjabkan mata sambil membuka pintu rumah. “Eh, Bu Rin. Ada apa pagi-pagi sekali kemari?” tanya Akira.

Bu Rin tersenyum, “Ini saya bawakan makanan untukmu dan Tino. Kalian pasti belum makan. Jadi, makan dulu ya, nanti kalau mau lanjut istiraahat tidak apa-apa, yang terpenting kalian makan dulu. Untuk mengajarnya kalian bisa memulainya besok. Atau jika kalian mau jalan-jalan akan saya antarkan.” kata Bu Rin. Akira tersenyum.

Indera penciumannya tak pernah berbohong terbukti ketika ia melihat seorang wanita paruh baya dengan senyum yang tersugging di bibirnya membawa dua rantang makanan untuk Akira dan juga Tino tentunya.

Terdengar suara pintu sebelah terbuka. Tino keluar rumah dengan mengucek-ucek matanya. “Eh, Nak Tino.” sapa Bu Rin.

Tino kaget melihat Bu Rin dan Akira di depan Rumah. “Eh, Bu Rin. Apa apa?” tanya Tino.

Bu Rin tersenyum, “Saya mengantarkan makanan untuk kalian. kalian pasti belum makan, kan?” Tino tersenyum mengiyakan.

“Terima kasih, Bu. Seharusnya Ibu Rin tidak usah repot-repot seperti ini.” sahut Akira.

Bu Rin tersenyum. “Saya malah lebih senang jika kalian mau mencicipi masakan saya. Makanan khas Kimmam ini.” jawab Bu Rin sambil menyodorkan satu rantang untuk Akira dan satu rantang untuk Tino.

Akira menerima rantang sembari berterima kasih kepada wanita yang dipanggil dengan Bu Rin itu. Dia adalah Ibu pengganti yang akan mengurus segala keperluan Akira maupun Tino selama berada di Kimaam.

“Mungkin aku akan lebih senang jika aku ke sini untuk liburan. Keindahan alam di sini sangat mempesona, ya.” Akira mengawali pembicaraan setelah mereka makan di tepi sungai. Mereka memilih makan di luar, sambil menikmati udara yang menyejukkan.

“Kamu benar. Di sini kita tidak merasakan kebisingan, kemacetan, polusi. Di sini masih bersih, indah dan sangat nyaman. Kurasa aku akan betah tinggal di sini. Makanannya juga enak.”

Akira mengangguk mengiyakan. “Aku juga.” Sahutnya.

Setelah makan, Akira dan Tino mandi. Untuk mandi, Akira dan Tino harus berjalan beberapa meter untuk mencari pemandian yang airnya lumayan bersih dibanding dengan kamar mandi yang berada di rumah. Tempatnya memang jauh, tapi kualitas airnya cukup untuk membersihkan tubuh karena air itu berasal dari sungai yang berada tak jauh dari tempat tersebut.

Akira dan Tino tak sabar lagi ingin melihat murid-murid pertama mereka, tempatnya tak jauh jika bersepeda. Mereka segera mengayuh sepeda dan harus melewati berbagai medan yang tak pernah terpikirkan oleh mereka, menyusuri sungai dan ladang-ladang untuk sampai di sekolah tempatnya mengajar. 20 menit mereka tempuh dan sampailah mereka di tempat tujuan yang mungkin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Hati mereka tersentak melihat keadaan sekolah yang sangat tidak layak untuk digunakan. Keadaan luar cukup mengenaskan. Bukan tembok dari batu bata atau bahan lainnya melainkan kayu yang telah dimakan umur. Cat-catnya telah mengelupas dan menampakkan lubang-lubang kikisan rayap.  

“Hei…” sebuah tepukan diringi permainan jari di depan wajah Akira seakan  menyadarkan kembali Akira. “Kita di sini untuk mengajar dan memberikan perubahan, ingat itu! Kamu lihat mereka sudah menunggu kita.” lanjut Tino sembari menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyum tulus melihat murid-murid pertamanya di depan kelas.

Akira dan Tino menghampiri anak-anak Kimaam yang sudah menunggui mereka di depan pintu. “Selamat pagi anak-anak!” sapa Akira dan Tino.

“Pagi, Kak!” jawab anak-anak serentak dengan penuh semangat, lalu masuk ke dalam kelas dengan tertib. 

Akira dan Tino segera memasuki kelas itu. Hati mereka kembali tersentak. Keadaan di dalam tak kalah mengguncang hati mereka. Atap-atap bercelah, membiarkan sinar matahari lolos begitu saja dan sesekali ada dedaunan yang ikut berlomba-lomba memasuki celah itu. Listrik tak ada, jika ingin menggunakan penerangan dengan lampu dalam minyak. Di depan mereka, Akira melihat anak-anak Kimaam yang sangat kesulitan, bahkan dalam pendidikan sekalipun. Tempat yang mereka sebut sebagai sekolah layaknya sebuah kandang jika bangunan ini berada di daerah perkotaan.

Akan tetapi kesungguhan anak-anak Kimaam sangat ingin mengeyam pendidikan, mereka sangat ingin bersekolah. Mereka tak perduli dengan keadaan kelas mereka.  Semangat mereka begitu besar. Jauh berbeda dengan banyaknya anak-anak di perkotaan yang tak memiliki sedikit pun semangat belajar padahal ribuan fasilitas sudah mereka miliki. Dalam hati, walaupun Akira dan Tino masih di bilang bocah bau kencur, namun mereka berjanji apapun akan mereka lakukan untuk anak-anak Kimaam.

Senyum Akira mengembang. “Kenalkan nama Kakak, Akira dan ini teman Kakak, namanya Kak Tino. Kami berasal dari Jakarta akan menjadi pengajar kalian sementara di sini. Salam kenal ya!” ucap Akira memperkenalkan diri sambil melambaikan tangan pada anak-anak dan tersenyum.

Anak-anak dengan gembira menerima mereka. Sebelum memulai pembelajaran Akira dan Tino memperkenankan murid-muridnya untuk bergantian memperkenalkan diri mereka.

“Hai, Kak. Namaku Dian. Aku sangat senang Kakak ada di sini. Akhirnya aku bisa sekolah lagi.” Dian, seorang anak yang berusia 8 tahun itu memperkenalkan diri.

“Hai, Dian. Semangat belajarnya, ya.” sapa Tino.

Secara bergantian mereka semua memperkenalkan diri. Hanya ada lima belas siswa di sini. Untuk daerah seperti Kimaam, jumlah seperti itu terhitung cukup banyak. Semua cukup antusias untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing di depan kelas, walau ada beberapa yang masih malu. Setelah semua anak-anak memperkenalkan diri satu persatu, mereka lalu duduk di tempatnya masing-masing, Akira dan Tino memulai pembelajarannya. Mereka segera mengambil alat tulis berupa pensil, pulpen dan sebuah buku tulis. Ada seseuatu yang membuat pikiran Akira dan Tino mengganjal.

 Saat anak-anak ditanyai tentang buku referensi mereka, anak-anak saling bertatap. Awalnya Akira tak mengerti. Namun saat ada salah satu siswi menggelengkan kepala, Akira tersadar bahwa mereka semua tak mempunyai referensi buku sama sekali. Lalu, Akira keluar ruangan yang tak layak di sebut kelas itu untuk menemui pembina sekolah. Karena sekolah itu belum resmi oleh pemerintah, maka tidak ada kepala sekolah melainkan pembina sekolah.

Akira mengetuk pintu dengan perlahan. Namun, sebelum sempat diketuknya, seseorang membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Itu bukan Bu Inda yang merupakan pembina sekolah di sini melainkan orang lain. Tanpa berpikir panjang Akira segera memasuki ruangan itu setelah mendapat sambutan masuk dari Bu Inda.

  “Permisi Bu Inda, maaf saya lancang. Mengapa anak anak tidak diberi referensi buku sama sekali?” tanya Akira setelah ia dipersilakan memasuki ruangan tanpa basa-basi.

Merasa pertanyaan Akira sedikit lancang, Bu inda menatap Akira dengan penuh curiga. “Bu Akira, ini bukan sekolah resmi, mengapa harus ada referensi buku?” kata Bu Inda dengan ketus dan wajah tak bersahabatnya.

Akira mengerutkan dahinya, terkejut. “Apa maksud perkataan ibu seperti itu? Mereka berniat menuntut ilmu Bu, mengapa kita tak memberikan mereka referensi buku pembelajaran, lalu apa yang mereka pelajari selama ini?” tanya Akira bernada tinggi.

Bu Inda memalingkan wajah, “Masih bersyukur mereka tidak di pungut biaya. Cari guru untuk mengajar mereka susah Bu, guru-guru yang banting tulang namun rela tak dibayar. Di sini semua guru atau mahasiswa yang berpendidikan dipindahkan ke kota-kota besar dan di tempatkan di tempat yang layak.” jawabnya dengan nada tinggi.

“Ja…jadi Bu Inda hanya terpaksa mengajar mereka? Lihat Bu, mereka anak-anak baik. Mereka butuh ilmu, Bu. Mereka butuh pendidikan yang layak. Ibu seharusnya tahu itu! Permisi!” Akira keluar ruang Bu Inda dengan berlinang air mata yang membasahi wajah cantiknya. Hatinya seakan teriris mendengar perkataan Bu Inda.

Tino yang dari tadi menguping percakapan mereka, menarik lengan Akira yang baru keluar dari ruangan, Akira kaget karena Tino membawanya bukan kembali ke kelas namun keluar sekolah dan mengambil sepeda tua milik Bu Rin. Lalu memboncengkan Akira tanpa berkata apa-apa.

“Kita mau kemana?” Tanya Akira.

“Kita ke kota sekarang!” jawab Tino singkat.

Akira mengerutkan dahinya. “Ngapain ke Kota? Lalu bagaimana anak-anak?”

“Kita beli buku referensi untuk anak-anak!”

“Anak-anak masih menungguku di kelas. Lebih baik aku pulangkan dulu anak-anak.”

Tino mengangguk, lalu memutarkan sepeda kembali ke sekolah.

Akira segera berlari. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam kelas. Ia sangat berat hati melihat keadaan anak-anak seperti itu. Sekali lagi ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh hatinya.

“Anak-anak kita akan mulai belajar besok ya. Jangan samai terlambat. Hari ini kita perkenalan dulu saja. Selamat siang!” wajah anak-anak terlihat sedikit kecewa.

Setelah melewati perjalanan cukup jauh menempuh waktu cukup lama untuk sampai ke Kota, Akira dan Tino mencari toko buku yang menyediakan buku referensi untuk pembelajaran anak-anak di desa.

Akira memilih-milih buku. “Kenapa?” tanya Tino, ketika melihat wajah Akira yang terlihat bingung.

Akira menatap Tino. “Aku bingung, buku mana yang harus aku pakai untuk anak-anak.” Mata Tino beralih menatap buku-buku itu sejenak. “Beli saja semuanya.” jawabnya singkat.

Akira menatap Tino tak paham. “Maksud kamu?” tanyanya.

“Ya, bukankah anak-anak membutuhkan semuanya. Toh jika kita beli itu semua kita tak akan rugi. Mereka sangat membutuhkan buku-buku itu. kita juga harus menyediakan alat-alat tulis untuk anak-anak, kan?”

Senyum Akira mengembang. “Oh iya kamu benar. Baiklah aku akan membeli ini, dan juga beberapa alat tulis untuk anak-anak.” Akira mengambil beberapa buku dan alat tulis, lalu menuju ke kasir.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Akira menoleh ke arah Tino. “Tino,” panggilnya. Tino menoleh. “Terima kasih banyak.” ucapnya dengan tulus. Tino tersenyum dan mengangguk.

***

Keesokan harinya dengan semangat barunya yang tak pernah berkurang Akira memulai pembelajaran yang kemarin sempat tertunda. Dia melihat betapa besar semangat anak-anak menerima pembelajaran.

“Hari ini kita belajar calistung ya.” kata Akira.

“Calistung itu apa, Kak?” tanya Reno, seorang siswa yang berusia sekitar 10 tahun. “Calistung itu adalah membaca, menulis, dan berhitung.” jelas Tino.

“Aku tidak bisa membaca, Kak.”

“Aku tidak bisa menulis.” beberapa siswa saling bersahut-sahutan.

 Pelajaran calistung yang seharusnya diajarkan sejak kecil, mereka harus pelajari saat ini. Pelan-pelan, namun Akira dan Tino yakin semua pasti akan ada hasilnya. Setiap usaha yang dilakukan tak akan mengkhianati hasilnya.

Akira melamun membayangkan betapa anak-anak di Jakarta yang saat ini menerima pembelajaran tanpa merasa kesusahan, mereka yang bolos sekolah, mereka yang lalai, dan bertindak semau mereka. Sedangkan, di belahan lain dunia ini masih ada banyak sekali anak-anak yang ingin sekolah seperti mereka di sini. Kekurangan guru, kekurangan buku pelajaran. Hal yang cukup membuat Akira bersyukur kepada Tuhan atas apa yang diterimanya karena terlahir diperkotaan dengan segala kenikmatannya.  Akira berjanji pada dirinya sendiri akan mengajarkan ilmu kepada anak-anak sampai mereka bisa.

Satu minggu terlewati, selama satu minggu itu pun Akira dan Tino berada di Kimmam bersama anak-anak di sini. Senin, seperti biasa Akira mengajar di sekolah ini dengan dibantu Tino. Tiba-tiba ada beberapa orang memakai seragam Dinas memasuki pekarangan sekolah. Tino keluar lalu bertanya apa maksud kedatangan mereka.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Tanya Tino.

“Saya mau membubarkan tempat ini!” Tegas bapak itu.

“Apa maksud Bapak? Siapa Bapak? Dan mengapa Bapak mau membubarkan tempat ini?”

“Saya Santo, dari Dinas Pemerintahan. Saya mendapat laporan bahwa ada sekolah ilegal di sini. Oleh karena itu, saya ke sini mau memastikan. Jika memang ada, saya akan membubarkan tempat ini.” Kata Pak Santo tanpa ekspresi dan segera berlalu dari tempat tersebut.

“Kak, Bapak itu mau membubarkan sekolah ini?” tanya Dian ketika Tino mau masuk ke kelas kembali. Tino melihat Dian menatapnya dengan iba. Tino mengelus rambut Dian dan memberinya pengertian. “Nggak kok. Kamu jangan sedih. Kamu pasti akan terus belajar kok! Semangat!”

Dian mengangkat kepala, matanya berkaca-kaca. “Semangat!”

Tino juga Akira bingung. Karena ini bukan daerah mereka jadi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tapi juga tak bisa tinggal diam melihat mereka bertindak seperti itu. Karena ancaman dari Pak Santo untuk sementara sekolah diliburkan. Selama itu pula mereka mencari ide bagaimana menyelesaikan permasalahan ini.

***

Sepasang mata memandang ke arah langit, ia menengadahkan tangan. Perlahan, setetes air mata itu jatuh tepat di telapak tangannya. Lalu dengan lirih ia berkata, “Kapankah pelangi itu bernar-benar akan datang?”

Dian merasa dirinya bagai seorang pungguk yang merindukan rembulan. Pendidikan hanyalah bualan. Masa depan baginya hanyalah sepucuk impian yang terlalu jauh untuk dijangkau. Segenggam mimpi yang lambat laun pergi. Apakah anak-anak miskin sepertinya memang tak pantas untuk menjadi orang yang berhasil? Apakah dia salah menginginkan sesuatu yang tak pasti? Mungkin dia seperti seorang pemimpi yang tak tak tahu diri, secercah harapan yang tak pernah benar-benar ia dapatkan.

Dian menangis. Akira tahu gadis kecil itu sedang menangis. dan akira juga tahu apa yang sedang ditangisinya. Ini benar-benar menyedihkan. Melihat anak-anak seperti itu membuat Akira merasa perlu berbuat sesuatu. ia tidak boleh hanya berdiam diri melihat orang-orang jahat itu menang.  

Akira dan Tino memutuskan berkunjung ke Kepala Daerah berharap beliau bisa membantu menyelesaikannya.

“Selamat pagi, Pak.”

“Saya tahu kalian datang kemari pasti mau membicarakan tentang sekolah, kan?” tebak Kepala Daerah itu.

Akira mengangguk. “Bapak benar. Bapak pasti juga sudah tahu perihal ini. Lalu apa yang akan Bapak lakukan untuk mempertahankan sekolah ini?”

“Nak Akira dan Nak Tino, kalian harus tahu. Posisi Dinas di daerah ini sangat tinggi. Kami orang-orang rendah tidak ada keberanian untuk melawannya. Mereka akan berbuat sesuatu jika kami berani melawan perintah mereka.”

“Tetapi mereka berbuat sewenang-wenang, Pak! Kita tidak boleh ditindas terus seperti ini!” kata Tino dengan sedikit bernada tinggi.

“Maaf, Nak. Bapak memang tidak bisa membantu secara terang-terangan kali ini. Namun, jika kalian membutuhkan sesuatu, saya akan membantu kalian semampu saya.”

Akira dan Tino mengembuskan napas berat. “Baiklah, Pak. Jika Bapak memang tidak bisa membantu kami secara terang-terangan. Bantulah kami mencari siapa dalang di balik permasalahan ini, Pak! Setelah itu kami akan mengurusnya sendiri.”

“Sebaiknya Nak Akira dan Nak Tino tidak usah ikut campur. Lebih baik diam saja, tidak usah melakukan apa-apa.”

“Maaf, Pak. Kami tidak bisa jika harus berdiam diri seperti ini. Saya sedih melihat anak-anak yang terus menerus menderita. Saya mohon kali ini izinkan kami ikut campur dalam urusan ini.”

“Baiklah, silakan. Semoga kalian berhasil!”

Akhirnya, Akira dan Tino memutuskan untuk mencari tahu siapa dalang dibalik permasalahan ini. Beberapa hari kemudian, Akira dan Tino curiga terhadap Bu Inda yang merupakan Pembina sekolah yang kerap kali ketahuan bertemu dengan Pak Santo secara diam-diam. Hal itu membuat Akira dan Tino berpikir bahwa ada hubungan tertentu antara Bu Inda dan Pak Santo. Diam-diam Akira dan Tino menyelidiki Bu Inda.

Ternyata Akira dan Tino mendapatkan fakta baru bahwa Pak Santo adalah saudara dari Bu Inda. Hal itu menguatkan kecurigaan mereka terhadap Bu Inda. Akira dan Tino mencoba menyusun rencana untuk membongkar kedok Bu Inda.

Akira tak bisa tenang sepanjang malam, begitu pun Tino. Mereka mencoba berpikir, berkutat dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis mereka. Bagaimana cara membuktikan adanya hubungan dekat antara Pak Tino dan Bu Inda. Akira masih berjalan bolak-balik tak tentu arah sembari menggigit kuku jarinya. Sedangkan Tino, walaupun tubuhnya diam, tapi otaknya bekerja lebih cepat sepanjang menitnya. Menit berikutnya Akira menghentikan langkah kakinya, ia mendekati meja di sebelah Tino. Dia menggebraknya cukup keras hingga membuat Tino tersentak. Matanya berbinar-binar sembari menarik sudut bibirnya. Tino menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Aku tahu caranya,” ucap Akira dengan perasaan menggebu. Ia kemudian membagi rencananya pada Tino. Awalnya Tino masih tak paham dengan rancana itu, tapi lambat laun Tino mengangguk-angguk paham. Mereka tak sabar untuk menanti hari esok.

Pagi ini Akira menemui Bu Inda.

“Permisi!” Akira datang ke rumah Dinas Bu Inda.

Bu Inda membuka pintu rumah, terkejut melihat kedatangan Akira. “Ada apa kamu ke sini?” Tanya bu Inda ketus.

“Ada yang ingin saya tanyakan kepada Ibu.”

“Soal?” tanya Bu Inda

“Anak-anak.”

“Bukankah sekolah sudah di tutup. Untuk apa kalian menemui saya lagi?” jawabnya dengan ketus.

“Apakah Ibu yang melaporkannya ke Pak Santo?” Tanya Akira.

“Iya memang benar saya! Ada masalah?”

Akira membelalak tidak percaya. “Apa maksud Ibu seperti itu?”

“Anak-anak Kimaam susah di ajari, mereka tetap nakal dan tidak ada kemajuan yang mereka dapatkan. Percuma saja kalian mengajari mereka. Jadi jika mereka di bubarkan akan mempercepat waktu saya berada di sini dan saya segera bekerja di Dinas Perkotaan.”

“Jadi itu niat Ibu? Ibu sungguh tak punya hati dan memikirkan jabatan Ibu tanpa memikirkan nasib anak-anak Kimaam. Permisi!” Akira lalu bergegas keluar.

Sebenarnya Bu Inda tak menyadari bahwa semua percakapan tadi di rekam oleh Akira. Rekaman itu bisa menjadi bukti kuat untuk mendapatan kembali sekolah bagi anak-anak Kimaam.

***

Kemudian Akira menemui warga Kimaam untuk membicarakan persoalan ini.

Kepala daerah menyuruh seseorang yang merupakan sekretarisnya untuk memanggil Bu Inda.

“Permisi, Bu.” Sekretaris Kepala Daerah mengetuk pintu ruangan Bu Inda. Bu Inda segera membukakan pintu.

“Ada apa, Pak?” tanya Bu Inda seraya mengerutkan dahi dan mempersilakan masuk ke ruangannya.

“Saya disuruh Kepala Daerah untuk memanggil Ibu. Ibu ditunggu di balai pertemuan sekarang.”

“Ada apa Pak?” Bu Inda tampak kebingungan, “Tidak biasanya Kepala Daerah ingin bertemu dengan saya.”

“Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan dengan Ibu.”

“Baiklah saya akan ke sana sekarang.”

Sepeninggalan Sekretaris Kepala Daerah, Bu Inda segera mengambil tasnya dan melangkah cepat menuju balai pertemuan. Di tempat yang ditujunya sudah ada beberapa orang yang datang. Semua orang memperhatikan kehadiran Bu Inda. Bu Inda segera bergabung dengan mereka.

“Ada kepentingan apa, Bapak memanggil saya kemari?”

“Anda sebagai Pembina Sekolah, saya ingin menanyakan kelanjutan dari kegiatan belajar mengajar di sekolah.” Jelas Kepala Daerah

“Maaf Pak, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya mengikuti aturan dari Dinas.” Bu Inda bersikeras membela diri.

“Apakah semua ini ada hubungannya dengan Anda?”

“Bagaimana bisa Bapak berbicara seperti itu? saya kan Pembina Sekolah dan saya sudah mengabdi bertahun-tahun di sini. Mana mungkin saya yang melakukannya.”

“Dia bohong, Pak!” Sela Akira.

“Diam kamu anak kecil! kamu ini baru di sini. Jadi jangan sok tahu, dan jangan ikut campur!”

“Tapi saya punya bukti, tidak sekadar omong kosong belaka!” ucap Akira seraya mengambil sesuatu di tasnya.

“Mana buktinya?” Tantang Bu Inda.

Akira tersenyum sinis pada Bu Inda. Ia menunjukkan sesuatu di genggamannya. Semua orang memandanginya dengan tatapan berbeda. Tino ikut tersenyum. Detik berikutnya sebuah rekaman terputar. Sebuah rekaman yang menunjukkan segala hal yang dilakukan Bu Inda terhadap sekolah itu. Semua orang tercengang mendengar rekaman itu. Bu Inda menunduk pasrah dengan perasaan campur aduk antara malu dan takut.

Tiba-tiba Pak Santo datang.

“Kami sudah memutuskan untuk membubarkan sekolah ilegal ini!” kata Pak Santo.

“Tidak bisa Pak, sebentar lagi kami akan menjadikannya sekolah resmi pertama kali di Kimaam.” Jawab Kepala Daerah dengan tegas.

“Kalian tidak mungkin bisa melakukan itu. Kalian mendapatkan dana pembangunan sekolah dari mana?” Sindir Pak Santo.

“Dari kami Pak. Soal dana tidak usah kalian pikirkan, kami yang akan mencarinya. Soal pembangunan sekolah resmi, saya mempunyai saudara yang bisa membantu proses-prosesnya di Pemerintah Negara.” Kata Tino dengan tersenyum puas.

“Untuk Pak Santo dan Bu Inda, silahkan tinggalkan tempat ini! Untuk Bu Inda saya akan pastikan Ibu tidak akan dipekerjakan di Pemerintah Perkotaan.” Tegas Kepala Daerah.

“Pak, saya mohon, maafkan saya, saya khilaf. Saya janji akan memperbaiki semua. Maafkan saya Pak.” Rengek Bu Inda dengan memohon mohon kepada Kepala Daerah.

“Bu Inda sudah kami maafkan. Tapi tolong segera tinggalkan tempat ini!!” Tegas Kepala Daerah sekali lagi.

Akhirnya sekolah resmi dibuka setelah selama 3 bulan pembangunan awal. Dana yang masuk cukup banyak dari perkotaan juga sumbangan yang di berikan oleh Akira dan Tino, dan sumbangan dari universitas mereka. Banyak anak-anak yang bersekolah. Mereka juga mendapat beasiswa dari Pemerintahan Pusat. Semua itu sungguh tiada duga. Kimaam akhirnya memiliki sekolah yang layak untuk para tunas-tunas muda mencari ilmu. Agar mereka bisa membangun Daerah Kimaam menjadi lebih baik lagi.

Setelah 3 bulan pembangunan, pembelajaran serta guru di Kimaam sudah tersedia, Akira dan Tino kembali ke Jakarta. Namun, mereka masih tetap berkunjung setiap liburan. Semua orang Kimaam mengenal Akira dan Tino karena merekalah yang merintis adanya sekolah resmi di Kimaam. Mereka selayaknya seperti seorang pahlawan yang sangat berjasa bagi Negeri Kimaam. Dan kemudian dapat direalisasikan karena bantuan dan kerja sama dari seluruh warga Kimaam. Sehingga kehidupan Kimaam menjadi lebih baik lagi.

Almaila Khoirunnisa – Anak Magang Vokal

**Selesai**