PENGAMANAN PEMIRA YANG DIPERTANYAKAN

Pemilihan raya (Pemira) merupakan pesta demokrasi untuk memilih dan menentukan Presiden dan Wakilnya, serta Dewan Perwakilan Mahasiswa dan orang-orang yang kemudian akan duduk di Ormawa, kegiatan ini merupakan kegiatan akbar tahunan yang diselenggarakan mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Pada Pemira tahun ini merupakan tahun kedua pemilahan dilakukan secara online. Trobosan luar biasa memang untuk Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) sekarang tidak perlu lagi menyiapkan beribu-ribu kertas untuk dibagikan kepada peserta Pemira, waktu lebih efesien dan tenaga sedikit berkurang.

Lab Komputer merupakan sasaran empuk untuk melaksanakan Pemira Online, ya kita tahu memang setiap kampus di Universitas PGRI Semarang terbatas jumlahnya, seakan tak kehabisan akal tablet pun ikut andil dalam kegiatan ini. Mengoperasikannya juga sangat mudah, hanya perlu memasukkan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM). Mengherankan atau bahkan aneh untuk Pemira berbasis online jika login nya hanya memakai NPM saja tanpa kode pengaman sedikit pun bahkan Captcha juga tidak ada.
Sangat disayangkan untuk hal sepele seperti itu, banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seperti mahasiswa yang tidak ikut andil dalam Pemira atau bisa disebut golput bisa saja hak mereka di gunakan oleh oknum-oknum tertentu. Mudah untuk mencari data mahasiswa golput, hanya dengan melihat daftar yang sudah mendaftar siapa saja dan yang belum siapa saja. Untuk melakukan hal itu kemungkinan ada pihak yang membela salah satu kandidat atau bisa jadi melakukan kong-kalikong.

Seperti ada yang menutupi untuk masalah ini, kemarin dan saat ini panwaslu mengatakan Pemira online ini sudah sangat aman dan dijaga pihak kepolisian serta ketahan dari pihak BPTIK, jika saja anda tahu seaman apapun yang anda janjikan jika login hanya menggunakan NPM tanpa password atau kode keamanan lainnya itu sama saja.

Tri Agustin