Pelantikan ORMAWA-LEMAWA: Mometum Introspeksi Bersama

VOKALPERS – Pelantikan kepengurusan Ormawa dan Lemawa baru di lingkungan Universitas PGRI Semarang sukses digelar pada Jumat lalu (20/12). Sejumlah  1948  pengurus Ormawa-Lemawa pun dilantik secara resmi pada kesempatan itu, lewat pembacaan dan penyerahan SK secara simbolis oleh dekan masing-masing fakultas untuk Lemawa, dan pelantikan secara langsung tiga lembaga tinggi (BEM U, DPM dan LKM) serta Ormawa oleh Rektor Upgris.

 “Komunikasi yang efektif adalah salah satu (capaian) keberhasilan mahasiswa UPGRIS  dalam berorganisasi. Disiplin serta beradaptasi,  sehingga mampu menjadi mahasiswa yang memiliki jiwa sosial,” papar Muhdi dalam pidatonya seperti yang dikutip dari Instagram @humasupgris.

Wakil Rektor III UPGRIS, Nizaruddin, yang turut hadir juga menuturkan akan mendukung UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) baru, seperti olahraga Pentaque dan E-Sport. Menurut Nizaruddin, E-Sport UPGRIS sendiri mempunyai potensi yang baik apabila didukung degan fasilitas dan pembinaan secara maksimal. Ide mengenai UKM E-Sport sendiri merupakan hasil rekomendasi mahasiswa yang hadir dalam Kongres Mahasiswa (14-15/12).

Tak haya memandang ke depan saja, adanya acara pelantikan tersebut semestinya juga menjadi momen introspeksi, sekaligus kilas balik bagi setiap kepengurusan Ormawa-Lemawa agar lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, acara pelantikan tersebut pun pada dasarnya menandai berakhirnya masa bakti kepengurusan periode sebelumnya (2018/2019), sekaligus bergulirnya estafet kepemimpinan masing-masing organisasi/lembaga—tak terkecuali, BEM Universitas. Setelah sempat santer diisukan “menghilang” beberapa bulan belakangan, akhirnya Andik Setiawan (PBSI ’15), lengser dari jabatannya sebagai presiden mahasiswa masa bakti 2018-2019, dan lantas digantikan oleh presiden yang baru, Aditiya (PGSD ‘16). Kendati telah secara sah tak lagi menjabat, namun sosok Andik masih saja menyisakan cerita tersendiri bagi khalayak UPGRIS.

Setelah beberapa waktu lalu sempat cukup sulit untuk ditemui, akhirnya awak Vokalpers berkesempatan untuk bertemu dan duduk bersama dengan Andik Jumat lalu (20/12) pasca acara pelantikan. Mas Andik, begitu kami menyapanya, terlihat santai, duduk dan bercerita ngalor-ngidul siang itu. Banyak hal terbahas di kesempatan yang langka itu; dari yang serius hingga topik soal durian dan burung. Ditemani segelas es teh untuk masing-masing mulut, obrolan dibuka langsung ke inti permasalahan yang santer dibicarakan di kalangan aktivis UPGRIS: PORSIMA 2019, untuk sekadar menjawab keingin-tahuan warga UPGRIS yang telah lama menanti kepastian dari banyaknya kabar burung yang beredar.

Klarifikasi

Seperti namanya, Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa, atau PORSIMA adalah sebuah ajang kompetisi olaraga dan seni yang diinisiasi oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga BEM Universitas. Kendati telah berjalan lama, pelaksanaan PORSIMA tahun ini rupanya menyisakan luka lama tersendiri bagi beberapa kontingen yang pernah ikut bertanding. Perhelatan PORSIMA dinilai memiliki kejanggalan dalam hal pendanaan berkaitan dengan uang pembinaan.

Dalam wawancara yang dilakukan, Andik, selaku Presma aktif pada masa pelaksanaan PORSIMA 2019 lalu, menuturkan bahwa masalah ini berakar dari seretnya dana yang turun dari Kemahasiswaan. Menurut Andik, dari pengajuan proposal dana sejumlah Rp 90.000.000,- hanya sebesar Rp. 80.000.000 lah dana yang disetujui oleh Wakil Rektor III untuk kegiatan PORSIMA.

Hal ini bertentangan dengan pernyataan dari Kemahasiswaan, di mana terdapat lima kali pencarian dana untuk kegiatan PORSIMA, dengan total dana sebesar Rp90.000.000,-. BEM U, melalui Andik sempat menyebut soal permintaan dana tambahan kepada lembaga, yang disetujui dengan pembuatan SPJ sebagai syarat.

“Kita kurang 10 (juta) kala itu. Kita maju lagi;  kita maju proposal sampai ke Bu Ning ya. Bu Ning (membolehkan) tapi harus pakai SPJ; oke kita buat SPJ. Ketika sudah keluar, ada beberapa agenda yang belum terselesaikan yang mendesak sekali; di antaranya yaitu bagaimana caranya kita harus makrab (malam keakraban) dan (melakukan) penggantian dana pribadi BEM U kala kegiatan proker; jadi 10 juta itu kita gunakan terlebih dahulu (untuk mubes dan penggantian dana pribadi), setelah itu kita meminta nota karena ada beberapa desakan tanggung jawab kami untuk memberikan uang pembinaan,” terang Andik. Hal ini belum sempat terklarifikasi lebih lanjut dikarenakan cukup sulitnya bendahara BEM U untuk dimintai keterangan.

Masalah muncul ketika penyebaran juklak PORSIMA, di mana tercantum bahwa pemenang akan mendapatkan uang pembinaan; yang mana Andik akui sebagai kesalahan penulisan (masih mengikuti format juklak lama yang belum diperbarui). Peserta PORSIMA yang tidak tahu menahu terkait masalah internal pendanaan tentu saja menagih uang pembinaan yang tak kunjung dibagikan. Adapun alasan yang diberikan terkait masalah ini adalah dari ketidaksetujuan Wakil Rektor 3 soal pemberian uang pembinaan itu sendiri. Yakni lembaga menilai bahwa perlombaan PORSIMA masih dalam lingkup universitas, jadi tidak perlu pemenang diberikan uang pembinaan. Kendati demikian, pihak Kemahasiswaan mengklaim bahwa dari dana Rp90.000.000,- yang digelontorkan, semestinya telah meliputi dana uang pembinaan dan hadiah. Hal ini tegas disampaikan Maria Ulfa, atas nama Kemahasiswaan, pada klarifikasinya via media sosial Whatsapp pada Jumat lalu (27/12). “Total Kemahasiswaan mengeluarkan 90 juta. Sudah termasuk uang pembinaan atau hadiah atlet. (Tidak benar yang beredar di luar jika Kemahasiswaan hanya cairkan 80 juta),” jelasnya.

Tak hilang akal, BEM U juga sempat mengajukan dana sebesar Rp10.000.000,- ke LKM, yang sempat tidak dapat dicairkan karena adanya hutang dari BEM U sendiri yang belum terlunaskan. “Pertamanya saya nggak bisa ngasih uang DKM ke BEM U kalau 10 juta itu (hutang) belum balik. Akhirnya kita keputusannya ambil DKMnya BEM U,” ungkap Nessa selaku ketua umum LKM periode lalu (24/12).

BEM U sendiri tidak memberikan keterangan resmi terkait informasi uang pembinaan pada khalayak UPGRIS sehingga lahir kesalahpahaman. Namun, Andik menyatakan bahwa BEM U sempat melakukan sosialisasi sebanyak dua kali terkait absennya uang pembinaan untuk PORSIMA tahun ini.

Di lapangan, ada beberapa pemenang PORSIMA yang telah diberikan uang pembinaan karena mereka terus menagih dan menghubungi pihak BEM secara pribadi; salah satunya adalah Hida, pemenang pertama cabang lomba Monolog, yang sempat mengungkapkan kekecewaannya kepada salah satu awak vokal via Whatsapp (25/12). “Yaa… Bukannya apa-apa ya… (Tapi dengan) adanya uang pembinaan kan juga untuk mengapresiasi pemenang lomba gitu. […] Itu aja (uang pembinaan) aku disuruh mas-masku suruh nge-chat ketua PORSIMAnya terus baru (akhirnya) dikasih,” terangnya.  Terdapat pula beberapa juara dalam cabang lomba lain yang mengaku cukup kecewa atas keterlambatan pencairan uang pembinaan, yang tertunda hingga satu bulan lamanya, seperti Alip Ponco, juara 3 lomba lari 300m. “Nek bayaren ketoe 75k po piro aku lali, tapi telat ok mba,” jawabnya ketika ditanyai jumat lalu (27/12). Meskipun terlambat, setidaknya BEM U telah kurang lebih memenuhi janjinya untuk memberikan uang pembinaan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, carut-marut uang pembinaan yang masih hangat dibahas pun disusul pula oleh kabar “hilangnya” Andik, selaku Presiden Mahasiswa. Berita kehilangan Andik melahirkan isu tak sedap dan menjadi bahan para oknum untuk menguunggah pamflet-pamflet bernada sindiran.

Di Balik Berita Kehilangan

Persoalan PORSIMA yang ditengarai menjadi alasan “hilangnya” Andik pun dengan kekeuh ditepis pria asal Rembang itu. Masalah  pribadi diakuinya sebagai alasan utama absennya ia dari UPGRIS akhir-akhir ini. Alasan yang ia utarakan ke khalayak umum pada Kongres Mahasiswa lalu (14-15/12), diakuinya belum menceritakan alasan konkretnya secara lengkap, yang memang sedikit-banyak menghambatnya untuk menjalankan tugasnya sebagai presma dengan baik.

Ketika isu mulai mencuat di kalangan mahasiswa UPGRIS, Andik mengaku sudah ada niatan untuk klarifikasi dengan membuat redaksi. Ia pun telah izin kepada pengurus BEM U lainnya, namun mereka beranggapan bahwa hal ini akan menimbulkan ketegangan di lingkup Ormawa-Lemawa—padahal BEM U lah yang memicu ketegangan dengan bersikap tutup mulut.

“Kemarin kan sempat ada sosialisasi dari DPM; setelah pertemuan itu juga saya udah mengklarifikasi semuanya dan divideokan alhamdulillah…” jelas Andik ketika ditanya perihal  tidak adanya klarifikasi isu yang beredar.

Sambil sesekali melontarkan candaan, Andik menuturkan bahwa alasan pulang kampung telah ia sampaikan pada beberapa pengurus BEM U. Ia juga sempat secara lisan kepada wakilnya untuk menggantikan tugasnya sementara. “Dua bulan terakhir, tepatnya bulan Oktober saya pamitan sama Irgi untuk balik, sebelum saya balik, saya pulang melihat kondisi rumah itu seakan-akan ora keurus (Jawa: tidak terurus), sekarang juga bolak-balik,” imbuhnya. “Cuma kalau teman-teman mempertanyakan, ‘Andik sekarang bagaimana’ dan sebagainya, mungkin saya gak ada di Semarang juga setelah kabar hilang bahkan setelah ini mungkin ini selesai juga (saya)  akan hilang lagi,” Andik menambahkan.

Dengan dilantiknya kepengurusan yang baru, semestinya menjadi awal yang baik bagi seluruh pihak untuk melakukan koreksi atas kepengurusan yang lalu. Acara pelantikan Jumat lalu (20/12) hanyalah simbolis dari dimulainya lembaran baru bagi ORMAWA-LEMAWA yang baru saja dilantik. Begitu pula, rapor merah BEM U 2018/2019 menjadi catatan bagi kepengurusan selanjutnya agar lebih bertanggung jawab; agar tidak dengan mudahnya  menanggalkan amanah yang  telah diraih semasa awal kampanye karena urusan pribadi. (ADP, C, LS, DTB).