Melalui Monolog, Teater Gema Kenalkan Inggit Ganarsih

Semarang- Vokalpers.com. Menjelang kompetisi nasional ATEFAC (Art and Sport Appreciation by Economic and Business Faculty of UNS) yang diadakan Universitas Negeri Surakarta, Teater Gema rutin menggelar latihan. Setiap malamnya Teater Gema menyulap Kantin GB menjadi tempat pementasan monolog. Properti latihan seperti panggung dan lampu halogen turut menghiasi ruangan. Beberapa mahasiswa juga terlihat hadir menyaksikan latihan dengan suasana hening.

Rencananya kompetisi monolog tingkat nasional akan diadakan pada 10 sampai 11 Maret 2020. Proses latihan sendiri telah berlangsung selama tiga bulan. “Awal dari proses adalah pemilihan naskah dari ketentuan penyelenggara kompetisi ATEFAC. Teater Gema memilih naskah yang berjudul ‘Inggit’ dan naskah itu masuk dalam kategori kompetisi. Proses yang kedua ialah pemilihan aktor dan proses terakhir berlatih setiap hari , ” Ujar Maslahatul Islami selaku sutradara, Jumat malam (28/02).

Maslahatul menjelaskan untuk pemilihan aktor monolog yang lolos seleksi adalah Ersa Damayanti. Ersa merupakan anggota Teater Gema yang berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Monolog yang akan dibawakan Ersa menuju lomba yakni mengenai Inggit Ganarsih.

Dilansir dari Indonesiakaya.com monolog Inggit bercerita mengenai kesetiaan seorang wanita mendampingi Ir.Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Di sisi lain, Inggit adalah wanita yang tegas dan teguh pendiriannya. Hal tersebut dibuktikan dari keberaniannya berkata “tidak” ketika Kusno (panggilan akrab Inggit untuk Soekarno) meminta untuk menikah lagi.

Namun sayangnya, keberanian dan ketangguhan Inggit hampir terlupakan dari sejarah.  Hal tersebut yang mendasari sutradara beserta tim memilih naskah monolog “Inggit”.  “Kisah Inggit juga harus diperkenalkan  ke publik, apalagi generasi sekarang belum tau kisah Inggit,  saya dan tim memilih naskah ini yang memiliki cerita yang bagus dan dapat motivasi generasi sekarang, ” tutur Maslahatul yang sering disapa Atoel Lawak.

Atoel Lawak menambahkan dalam naskah “Inggit” karya Ahda Imran, Inggit merupakan kembang desa dan penari ronggeng yang berasal dari Kamasan, Bandung. Tak jauh berbeda dari naskah asli, penampilan monolog juga akan divisualisasikan melalui tarian kontemporer. Selain itu, pukulan gamelan sunda akan mengiringi Ersa untuk lebih menghayati lakon dan membuat suasana menjadi syahdu. Teater Gema berharap mereka dapat menyabet Juara kembali di  Artefac UNS. (DTB/C)