Kuliah Daring, Kuliah Sambil Rebahan?

Semarang.vokalpers.com – Meningkatnya angka penyebaran  Covid-19 yang terjadi di Indonesia membuat Pemerintah Pusat  melakukan pelbagai cara   untuk meminimalisasi resiko penyebaran pandemi tersebut. Kebijakan social distancing dan work from home yang dikeluarkan oleh pemerintah memaksa semua kegiatan yang memicu penularan diberhentikan maupun dilakukan secara online.

 Kegiatan perkuliahan di banyak kampus yang ada di Indonesia pun terpaksa dilakukan dalam jaringan (daring) atau online. Di Univesitas PGRI Semarang, kuliah daring dimulai saat  terbitnya surat edaran rektor bernomor 040/R/UPGRIS/2020  (15/03). Dalam surat tersebut, perkuliahan daring dilakukan sejak 18 hingga 31 Maret (atau dalam batas waktu yang  belum ditentukan). Kemudian menyusul surat edaran kedua nomor 042/R/UPGRIS/2020 yang menyatakan bahwa perkuliahan daring diperpanjang hingga 30 April. Tak hanya itu, kegiatan non akademik di kampusjuga  ditunda atau ditiadakan.

Mengenai perkuliahan daring yang menggantikan kuliah secara tatap muka, nyatanya menuai polemik di kalangan mahasiswa.  Hal itu nampak dari banyaknya mahasiswa yang misuh-misuh di grup kelas. Pengalaman saya mengikuti kuliah daring yang hampir menginjak dua mingguan ternyata lebih melelahkan dibanding biasanya. Ekspektasi awal yang indah telah melebur. Lalu, bagaimana realisasinya?

Bagi para mahasiswa  mungkin awalnya merasa senang mendapat kabar bahwa perkuliahan akan diadakan melalui daring saja. Mereka membayangkan enaknya kuliah daring sambil rebahan di kamarnya masing-masing, memutar musik keras-keras. Sembari menikmati camilan yang disiapkan khusus untuk menemani berjalannya kulian online. Selain itu, mereka juga berfikir akan merasa lebih aman dari covid-19 karena tak harus berada di tengah keramaian.

Tapi kenyataannya tidak seindah itu, Ferguso. Khayalan-khayalan di atas lenyap begitu saja saat satu per satu dosen menghubungi masing-masing PJ (penanggung jawab) mata kuliah. Para dosen meminta untuk dibuatkan grup khusus mata kuliahnya.  Grup whatsapp coy~. Bayangkan saja jika ada sebelas mata kuliah, dan semua dosen meminta dibuatkan grup sendiri-sendiri.

Kenapa harus pake Whatsapp coba? Kalau ada yang salah grup, salah manggil dosen kan berabe. Misalnya aja kayak teman saya kemarin manggil dosen laki-laki eh malah dipanggil “Umi”. Dikira lagi sholawatan sama Sulis, kali. Atau sama Hadad Alwi? Namun ada juga beberapa dosen yang meminta mahasiswa untuk mengunduh aplikasi yang digunakan sebagai platform kuliah daring .

Belajar dengan metode jarak jauh, long distance relationship *eh, lebih menyedihkan dibanding hubungan LDR. Di tengah perasaan cemas karena adanya pandemi covid-19 serta banyaknya pemberitaan yang mendramatisir. Kecemasan mahasiswa bertambah karena harus berjibaku dengan pelbagai tugas yang terkesan formalitas.

 Tapi sebagai mahasiswa yang  selalu salah  dan dosen maha benar (menurut hukum adat perguruan tinggi) maka kami ikuti saja apa kata dosen. Whatsapp pun tiba-tiba dipenuhi dengan grup mata kuliah. Satu per satu dosen mengecek masing-masing grup. Ada yang hanya mengucapkan selamat belajar melalui daring, ada yang langsung menanyakan tugas minggu kemarin, bahkan langsung memberi tugas untuk minggu depan. Sebentar-sebentar, ini kuliah daring kan, bukan tugas daring? Kenapa tiba-tiba dikasih tugas semua, yak.

Bukan hanya satu dosen yang spontan (uhuy~) ngasih tugas, namun lebih dari itu. Beberapa teman bercerita mengenai dosennya yang memberi tugas dan mengharuskan mencantumkan referensi dari buku yang ada di perpustakaan. Perpustakaan  tutup sehingga mereka diberi alternatif untuk mengunjungi perpustakaan online. Namun setelah dicek, ternyata perpustakaan online error pula. Hal itu sempat  membuat mereka kebingungan.

Selain tugas yang menumpuk, batas pengumpulan tugas juga kerap menghantui. Ada beberapa dosen yang memberikan deadline dua hingga tiga hari sejak intruksi. Di saat pandemi, mencari referensi buku lumayan susah,karena perpustakaan dan toko buku tutup dan tak semua buku yang dicari tersedia di internet.

Menurut pengalaman teman saya, sebut saja ia Mawar. Jadwal perkuliahan daring yang ia ikuti terkadang tak menentu. Mawar bercerita mengenai dosennya yang menentukkan jadwal kuliah dengan sendiri. Misalnya  ketika  jadwal perkuliahan yang seharusnya adalah Kamis, pukul 09.00. Tapi, di grup tiba-tiba dosen meminta untuk diajukan jadi hari Rabu malam, untuk jamnya nanti disepakati bersama (katanya). Eh laiki mak bedunduk kok malah baru hari Selasa pagi sudah nggegeri grup.

Tujuan diadakannya kuliah daring yang ingin melindungi seluruh civitas akademik agar aman dari covid-19 mungkin telah tercapai. Namun di sisi lain, ada kalangan yang menjadi “korban” dari kegiatan tersebut. Tak hanya dari mahasiswa saja, dosen pun  terbebani. Kegiatan kuliah daring mengharuskan dosen memutar otak lagi agar pembelajaran tetap berlangsung secara efektif.

 Jika saja Chairil Anwar masih hidup,  lalu ia melihat stories instagram, status whatsapp para mahasiswa yang mengeluhkan tugas beserta deadline yang mepet,  mungkin sajaknya akan berbunyi “Mampus kau dikoyak-koyan deadline“. Mampus kau~

P : NH

E : C