Posi(+)ive, Kesehatan itu Mahal Harganya

Sutradara : Atiqah Hasiholan
Durasi : 15 menit 13 detik

Bila dikaitkan dengan film “Pos(+)ive ” akan mengandung makna yang digambarkan pada kalimat-kalimat di atas. Kesehatan itu mahal harganya. Kalimat ini menjadi inti dari permasalahan di dalam ceritanya. Ungkapan yang mungkin sering terdengar bahkan terucap di khalayak umum. Sayangnya, ketika sehat mereka abai, acuh tak acuh bahkan bodoh amat. Sederhananya, dengan abai terhadap kesehatan diri sendiri, suatu saat akan menjadikan bumerang yang menyerangnya tanpa ampun.

Menilik judul dari filmnya, yakni “Posi(+)ive ” orang mungkin akan menerka-nerka. Apa sebenarnya posi(+)ive itu? Bahkan ada yang mengira posi(+)ive adalah film yang mengisahkan tentang seseorang yang hamil di luar pernikahan. Di luar dugaan, film garapan Atiqah Hasiholan ini, posi(+)ive memiliki pesan untuk masyarakat mengenai bagaimana kita harus sadar akan kesehatan.

Tokoh utama wanita yang bernama Marini, yang berperan sebagai adik dari seseorang yang mengidap suatu penyakit mematikan. Menjadikan suatu keresahan pada dirinya sendiri. Hal inilah yang memicu konflik utama dalam cerita. Bagaimana tidak? Selain sang kakak yang harus berjuang melawan penyakitnya, namun juga keponakannya, gadis kecil tak berdosa itu harus ikut berjuang karena ternyata memiliki penyakit yang sama dengan ayahnya.

Pesan untuk Masyarakat

Terkait dengan virus HIV inilah sang sutradara memberikan suatu pesan kepada masyarakat “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”, yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan secara berkala atau paling tidak jika sudah merasakan gejalanya. Hal ini sangat diperlukan karena penyakit HIV termasuk salah satu dari penyakit menular yang tergolong sangat berbahaya. Bagaimana jika seseorang yang tak mengetahui dirinya mengidap HIV, kemudian melakukan hubungan intim. Akibatnya, penyakit itu akan mengancam nyawa tidak hanya kepada suami/istrinya tetapi juga kepada jabang bayinya. Mengkhawatirkan bukan? Bagaimana hidup seorang anak yang sedari lahir sudah mengidap penyakit yang berbahaya. Problem itu disampaikan secara langsung melalui film “Positive (+)” ini.

Dalam cerita ini, sebagai seorang adik dari kakaknya yang mengidap HIV, Marini mengungkapkan kekecewaan terhadap sang kakak yang abai terhadap kesehatan dirinya sendiri. Namun, hal itu tidak membuat Marini lantas tidak peduli, ia malah  mengikuti suatu komunitas penyandang HIV di kotanya, tidak hanya untuk berbagi pengalaman tetapi juga saling memberi dukungan satu sama lain. Bahwa seseorang yang mengidap HIV masih memiliki harapan hidup yang besar.

Namun, ketika di awal, film ini kurang begitu memberikan penjelasan terkait alur yang disuguhkan oleh sutradara sehingga penonton sedikit dibuat bingung bagaimana jalan cerita ini berlangsung. Selain itu antara kejadian demi kejadian dalam rentang waktu yang berbeda tidak ada penjelasan. Sederhananya, ceritanya menjadi tidak beraturan. Namun, ketika sudah menginjak beberapa menit, penonton akan paham bagaimana sang sutradara menyajikan cerita dalam film ini secara apik. Hal-hal tersebut yang membuat film ini menjadi film yang berbeda. Selain secara penyajian film, tetapi pesan yang disampaikan sangat bermanfaat, untuk kalangan remaja hingga dewasa khususnya.

Penulis :  Almaila Khoirunnisa

Editor   : Cucianingsih