Ratapan Mahasiswa Akhir yang Merasa Tidak Disayang Siapa-Siapa

vokalpers.com – Peniadaan Ujian Nasional (UN) yang beberapa waktu lalu membuat girang anak-anak SMA memunculkan rasa iri pada para mahasiswa semester akhir yang masuk tahun 2016. Mereka seharusnya mendapatkan gelar sarjana di tahun 2020 ini, namun karena adanya pandemi corona rencana mereka bisa saja tertunda. Tidak adanya kebijakan yang bersangkutan terkait mahasiswa semester akhir membuat mereka merasa tidak disayang oleh semua pihak, baik kampus atau pun pemerintah.

Tanggal 24 Maret Fachrul Adam dengan berani membuat petisi di www.change.org berjudul “Polemik Mahasisa Semester Akhir” yang ditujukan kepada Kemendikbud, Nadiem Makarim, dan Kemenristekdikti. Dia menagih keadilan, gampangnya meminta skripsi juga harus ditiadakan layaknya UN. Hingga Jumat malam tanggal 25 Maret petisi tersebut sudah ditandatangani oleh 6.950 orang. Petisi ini  berisi dua perihal, pertama permintaan dibebaskannya mahasiswa tingkat akhir dari skripsi. Kedua mahasiswa tingkat akhir terhindar dari pembayaran UKT jikalau mereka terpaksa harus menyelesaikan tugas akhir (TA) di semester mendatang.

Setidaknya mereka-mereka yang menandatangani petisi tersebut memiliki beberapa alasan. Fachrul Adam sendiri menulis panjang yang intinya bimbingan online tidak efektif karena jaringan tidak memadai. Penelitian di lapangan juga tertunda. Ingin lulus tepat waktu agar tidak lagi membebani orang tua karena terlalu lama kuliah dan tentu saja harus lanjut bayar UKT. Fachrul juga memberi penekanan di akhir dengan kalimat “dua itu saja, harap dikabulkan.”

Petisi ini cukup populer di kampus saya, banyak teman yang merasa senasib menyebarkannya di whatsapp story . Sebagai sesama mahasiwa tingkat akhir saya memaklumi betul perasaan tersiksa yang dialami teman-teman semua. Tetapi apakah semudah itu menghilangkan skripsi?

LPM Platinum menulis artikel berjudul “Inilah alasan-alasan kenapa skripsi penting untuk hidupmu”. Alasan kelima dalam artikel tersebut berbunyi “Mahasiswa adalah kaum akademik. Kehidupannya di kampus bergelut dengan ilmu pengetahuan siang dan malam. Oleh karena itu, orientasi pembelajarannya adalah dia akan menghasilkan suatu karya ilmiah minimal sekali selama kuliah. Hal ini tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 25 ayat [1]: Perguruan Tinggi menetapkan persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi atau vokasi.”

Namun, pasti ada yang berpikir bahwa isi dari skripsi mereka terkadang tidak sesuai dengan mata kuliah yang diajarkan dosen selama tiga tahun kuliah. Saya juga merasakan hal yang sama. Saya menceritakan hal itu kepada salah satu guru saya semasa SMP, beliau pun menjawab dengan bijak “Skripsi bukan semata-mata soal hasil. Tetapi juga soal proses, perjuangan seorang diri, tanpa copas sana sini, itu yang menguji daya tahan mahasiswa. Lagi pula kamu tidak mau kan lulus dengan predikat lulusan virus corona? Hilangnya skripsi akan menurunkan daya jualmu dan daya tahanmu sebagai mahasiswa.” Begitulah kata beliau yang saya balas dengan “ooh iya”.

Tidak ada yang mengharapkan kondisi seperti ini, kedatangan virus yang bisa jadi akan memupuskan harapan kita untuk lulus tepat waktu. Secara sengaja saya memberikan pertanyaan lewat WA kepada teman-teman saya.

  1. Apa sih keluhan kalian sebagai mahasiswa akhir di kondisi seperti ini?
  2. Apa bimbingan daring kalian berjalan lancar?

Kampus kami adalah satu dari kampus yang menerapkan bimbingan daring atau bimbingan online sebagai jalan keluar diliburkannya aktifitas di kampus selama pandemik ini masih berlangsung. Seolah masalah selesai, kampus tidak mengetahui bahwa kebijakan itu tidak dipersiapkan dengan baik. Setidaknya di bawah ini penderitaan-penderitaan yang dialami mahasiswa tingkat akhir di kampus kami, bisa jadi di kampusmu juga.

  1. Sulitnya mencari bahan referensi karena perpustakaan kampus juga tutup.
  2. Tertundanya penelitian di sekolah, karena sekolah tutup juga (kebanyakan dari kami jurusan pendidikan).
  3. Dosen seperti kebingungan karena bisa jadi mereka belum pernah menghadapi bimbingan online. Biasanya tinggal corat-coret dan cuap-cuap. Hal ini bisa dilihat dengan proposal-proposal bimbingan yang sudah dikirim melalui WA atau email tetapi tak kunjung kembali kepada mahasiswa.
  4. Dosen gaptek dan meminta mahasiswa menunggu sampai pandemik reda agar bisa bimbingan tatap muka.
  5. Poin keempat di atas menciptakan masalah baru: mahasiswa makin males bikin & UKT akan tetap jalan bro~. Intinya bimbingan daring dinilai tidak efektif.
  6. LDR sama pacar dan teman membuat semangat hilang. Maklumlah biasanya hidup berkoloni, mengerjakan skripsi di perpustakaan bersama-sama.

Beberapa kendala tersebut membuat mahasiswa semester akhir tidak terima bila mereka masih saja ditarik UKT. Kami berharap semoga semua cepat terkendali dan negeri ini sehat seperti sedia kala. Kasihani kami, kami yang pasrah bila harus pupus harapan agar lulus tepat waktu.

Penulis : Ratna Purnamasari

Editor : Cucianingsih

Kontributor : Ratna Purnamasari