Membangun Empati di Tengah Pandemi

Tiga pekan telah berlalu sejak diberlakukannya aturan ‘belajar dari rumah’ oleh berbagai instansi pendidikan. Namun, hingga kini, media sosial masih cukup ramai dengan post keluhan warganet tentang menggunungnya tugas pengganti kelas daring yang dirasa lebih memberatkan dibanding pertemuan tatap muka itu sendiri. Mengapa demikian?

Menengok ke belakang, per 16 Maret lalu banyak diterbitkan surat edaran oleh pelbagai instansi yang menyebutkan adanya perintah work from home bagi karyawan,ataupun belajar mandiri bagi pelajar dan mahasiswa. Perintah isolasi mandiri di rumah selama 14 hari yang dimaksudkan sebagai upaya pertama pemerintah untuk mengurangi interaksi antar-manusia demi mencegah adanya penularan Coronavirus Desease 2019 (Covid19) itu pun tak pelak menimbulkan perubahan yang cukup drastis bagi kebanyakan orang, mengingat adanya ‘penyesuaian’ pola hidup yang tentunya turut mengikuti.

Belum seminggu protokol belajar mandiri dilaksanakan, media sosial sudah riuh rendah dengan segala bentuk sambatan (re: keluhan) dari seluruh lapisan masyarakat; ibu-ibu mengeluhkan PR anak yang seabreg, pengemudi ojol (ojek online) menangisi orderan yang sepi, aktivis mengutuk DPR yang… ah sudahlah…, mahasiswa me-nyambati tugas kuliah yang aduhai banyaknya, hingga aku yang mesti menahan rindu ketemu doi yang tak kunjung pasti~ pokoknya, semua lengkap! Satu-persatu permasalahan mulai bisa diatasi; masing-masing pihak pun mulai menyesuaikan diri dengan situasi. Sayang, hingga kini masih ada saja satu-dua sosok yang masih gegana—gelisah, galau, dan merana denggan situasi yang ada.

Mereka yang Tak Terima

Mahasiswa menjadi pihak yang rasanya paling lantang menyuarakan cendol dawet kegundahannya sejauh ini. Tak hanya mahasiswa aktivis yang kecewa karena demonstrasinya mesti tertunda karena Corona, mahasiswa generik pun kali ini turut mengekspresikan keresahannya. Pelbagai meme dan tulisan, baik yang 100% sambat hingga yang bernada menyindir, ramai menghiasi hampir seluruh platform media sosial. “Tugas terus. Ini kuliah online apa tugas online sih?” adalah pertanyaan yang sepertinya memuncaki daftar panjang keluhan para agent of change, katanya~

Terpantau, pekan pertama diberlakukannya perintah belajar mandiri menjadi pekan  yang paling menjemukan. Akibat belum siapnya dosen dalam melakukan perkuliahan daring, mahasiswa pun mendapatkan gunungan tugas dengan deadline yang aduhai sebagai gantinya. Hal ini pun tak ayal membuat mahasiswa merasa begitu terbebani. Berbagai macam bentuk protes pun dilemparkan, yang mana mendapat respons yang beragam dari tiap-tiap dosen pula; ada yang balik mengeluh, ada yang menerima, dan ada pula yang balik bikin status di Whatsapp. Hal ini wajar, mengingat mahasiswa bukanlah satu-satunya yang menderita di sini. Mahasiswa lelah mendapat tugas; dosen pun kewalahan putar otak bagaimana mengatur proses perkuliahan online dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sayang, hal ini sepertinya belum dimengerti sepenuhnya oleh sebagian rekan agent of change kita.

Memasuki pekan kedua belajar mandiri, banyak universitas terlihat mulai sigap membenahi sistem perkuliahan yang ambyar pada pekan sebelumnya. Media video conference (vidcon)pun menjadi primadona kebanyakan dosen untuk menggelar proses perkuliahannya. Dinilai lebih efektif, vidcon pun juga memiliki sisi negatif: boros kuota internet. Hal ini pun tentunya menimbulkan keluhan lain dari mahasiswa. Kaum misqueen sontak menangisi perpisahan mereka dengan Pak Soekarno-Hatta dan I Gusti Ketut Ngurah Rai, yang mesti pergi, hidup bersama mas-mas konter penjual pulsa.

Tak hanya masalah keuangan, vidcon pun juga memiliki kekurangan lain. Karena bekerja dari rumah, banyak dosen, khususnya dosen wanita, yang mesti nyambi mengajar sambil mengerjakan pekerjaan rumah (re: momong anak). Tak jarang, sayup sayup suara “bu, mau cucu” dan semacamnya terdengar di ujung saluran telepon. Akibatnya, perkuliahan pun diselesaikan dini. Tapi kurasa, urusan ini, justru menjadi kesenangan bagi mahasiswa, untuk menyelesaikan perkuliahan secepatnya. Ehehe.

Hingga tulisan ini dibuat (6/4), belum ditemukan solusi jitu yang dapat memberikan kedamaian batin bagi seluruh pihak. Untuk mengatasi masalah seretnya keuangan untuk membeli kuota internet, tuntutan pun diajukan kepada universitas untuk memberikan subsidi kuota. Meski sudah dikabulkan sekenanya, yang penting mahasiswa diam, masalah mengenai bagaimana perkuliahan dapat berlangsung efektif masih saja menjadi headline di sanubari tiap mahasiswa-dosen. 

Sebagai tipe mahasiswa santai, aku sesungguhnya tak begitu mempermasalahkan tumpukan tugas yang ada, maupun kuota internet yang kerap bablas.  Namun, kasihan juga melihat teman-teman, yang kayanya berat sekali menjalaninya, seperti mau ujian Chuunin. Menyikapinya, kurasa untuk saat ini, hal terbaik yang dapat semua pihak lakuka bersama, tak lain adalah refeleksi diri.

Pentingnya Refleksi Diri

Terlepas dari segala hal pelik yang terjadi, adanya pandemi corona bisa menjadi momen untuk refleksi setelah sibuk dengan seabreg aktivitas yang biasa dilakukan di hari-hari normal yang kita miliki sebelumnya. Sudah sesuaikah kegiatan yang dijalani setiap harinya dengan hati kita (iya kita)?

Refleksi sendiri erat kaitannya dengan kesadaran. Kita yang notabene mahasiswa, perlu sadar bahwa tugas utama kita ya… belajar agar berguna bagi bangsa, negara dan mertua agama. Belajar memiliki arti yang luas, dan sumbernya pun bisa dari mana saja.  Keterbatasan yang menghampiri seperti saat ini tak begitu harusnya menyurutkan semangat kita dalam belajar ataupun memperjuangkan apa yang layak diperjuangkan saat ini. Satu lagi yang perlu disyukuri, dengan belajar dari rumah, setidaknya kita gak akan merasa capek naik tangga gara-gara gak kebagian antrean lift.

Refleksi juga tidak hanya terhadap diri sendiri, melainkan orang-orang di sekitar kita, salah satunya dosen. Mengulas mahasiswa tanpa membicarakan dosen bagai sayur tanpa garam. Dua mahluk ini seperti layaknya Romeo dan Juliet—tak bisa dipisahkan. Sudah banyak cerita lucu, dramatis bahkan tragis yang terjadi antara keduanya. Namun saat ini, kita sebagai mahasiswa seperti sedang perang dingin. Di satu sisi, banyak mahasiswa jengkel dengan pemberian tugas seabreg saat kuliah online. Namun di sisi lain, dosen juga mungkin kebingungan menyusun formula agar tugasnya sebagai dosen tetap berjalan tanpa membebani mahasiswa. Di sini, empati menjadi kunci.

Secara kognitif keadaan emosi keduanya dapat digambarkan dalam Hot-Cold Emphaty Gap. Istilah tersebut terjadi ketika perbedaan emosional membuat dosen maupun mahasiswa sulit untuk saling memahami satu sama lain. Hal itu terjadi karena keduanya belum berada pada posisi lawan. Meskipun dosen pernah menjadi mahasiswa, hal ini tidak menjamin bahwa apa yang dirasakan mahasiswa sama dengan apa yang dosen lalui ketika mereka menjadi mahasiswa.

Hot-Cold Emphaty Gap memiliki dua varian, yakni Hot state dan Cold state. Hot state terjadi ketika seseorang merasakan emosi yang tidak stabil sehingga berpikir ke arah irasional (marah, sedih, insecure, takut, dll). Contohnya adalah ketika kita diberi beban tugas yang menumpuk dengan deadline yang terbatas. Saat mengalami hal tersebut kita merasa tertekan dan bingung, sehingga muncul perasaan suudzon terhadap dosen. Lantas, jari-jemari spontan mengetik status sambatan yang banyak kita temui tiga pekan belakangan ini.

Sedangkan, Cold state adalah situasi ketika seseorang berada dalam keadaan stabil dan lebih rasional dalam berfikir (tenang, kalem, menguasai, dll). Sederhananya, seseorang tersebut mampu mengolah emosi mereka dengan baik. Namun, dalam keadaan ini orang dalam cold state cenderung lebih sulit menerima keadaan irasional (hot state). Situasi ini terjadi pada beberapa dosen; ketika mahasiswa sedang mengeluh atau sambat di media sosial mengenai tugas, biasanya mereka akan berbicara “dulu pas saya jadi mahasiswa, saya disuruh membaca sepuluh jurnal dalam semalam, tapi kemudian saya baca sampai dua ratus jurnal.” Contoh tersebut bisa saja kita balik, misal ketika mahasiswa dalam keadaan Cold state “kalau saya jadi dosen nanti, saya gak bakal ngasih tugas dadakan, itu melanggar HAM—hak angler (re: tidur) mahasiswa”.

Kurangnya tenggang rasa dan pengertian terhadap satu sama lain menimbulkan jarak antar manusia. Dalam keadaan seperti ini, membangun empati dengan saling mengerti perasaan satu dengan yang lain menjadi kunci. Perasaan empati bisa muncul ketika kita sadar, bahwa hal di luar pikiran, sikap, dan emosi tidak bisa kita kendalikan.

Di situasi yang tengah kita hadapi saat ini, perlu disadari bahwa duka yang kita alami adalah duka bersama. Sebagai mahasiswa, mari kita tunaikan tugas mulia kita, dengan menyelesaikan gunungan deadline yang telah diamanahkan pada kita. Dan untuk bapak-ibu dosen tercinta, mengertilah juga bilamana kami hanyalah mahasiswa yang mahabiasa; tidak punya kagebunshin untuk membantu kami mengerjakan tugas dan bikin tiktok mijetin Bapak yang lelah cari uang buat bayar kuliah dan beli kuota, di saat yang bersamaan. Yuk bisa yuk?

Bukannya mengeluh itu haram hukumnya—hanya saja, bukankah ada baiknya bila kita lebih menghargai mereka yang tetap mesti bekerja dengan penuh resiko di luar sana dengan fokus pada apa yang nyata di hadapan kita saat ini—menghidupkan laptop sambil sesekali scroll Instagram di kamar? Sambatlah, pada tempatnya, sesuai porsinya. Kalau kata Mas Bas alias Hindia, “Kau hanya merindu, mencari pelarian, dari pengabdian yang terbakar sirna. Mengapur berdebu. Kita semua gagal. Ambil s’dikit tisu, bersedihlah secukupnya.” Begitu.

Penulis :ADP,C

Editor : ADP,C