Mba – Mba UPGRIS Starter Pack

Dih make-upnya tebel banget. Bajunya gak matching tuh sama jilbabnya. Cewek yang suka boti alias bonceng tiga tuh mirip cabe-cabean. Pake mukena kirain mau ibadah ternyata mau bikin tiktok. Muedhok banget logatnya. Asdfghjklxxxxx…

Yuk, cung, siapa saja yang pernah mbatin mbak-mbak secara random di jalan seperti kalimat-kalimat di atas? Pasti beberapa dari kita pernah ngomong gitu kan tiap lihat salah satu atau banyak teman di kampus. Yakannnn? Ngaku! Tenang, aku pun kadang gitu kok hehehehe.

Pada dasarnya, tendensi untuk menilai seseorang pada pertemuan pertama, atau bahasa kerennya first impression, lumrah adanya—hampir semua orang pasti memiliki first impression terhadap suatu objek tertentu saat pertama kali melihatnya. Hanya saja, jangan sampai kita jadikan first impression kita sebagai patokan untuk lantas menilai, bahkan kemudian menghujat seseorang di lain kesempatan yaaa… tuman!

Tak jarang, first impression juga kita gunakan sebagai senjata untuk mengelompokkan orang-orang dalam kelompok tertentu. Tak hanya gemar makan nasi kotak, manusia pun gemar mengotak-kotakkan sesama manusia. Standar yang digunakan dalam pengelompkan pun beragam, bisa dari kesamaan interes, kesamaan ideologi, hingga kesamaan gaya berdandan. Keseragaman tersebut pun bisa dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tren, kebutuhan, hingga adanya tekanan untuk mengikuti arus utama. Nah, dari adanya pengelompokan ini, munculah stereotip-stereotip tentang kelompok-kelompok masayarat tertentu—tentang bagaimana kelompok A berdandan, bagaimana kelompok B berpakaian, dan lain sebagainya.

Terus gimana sih stereotip yang ada pada mahasiswa UPGRIS? Menurut pengamatanku, mahasiswa UPGRIS ini mempunyai ciri khas tersendiri. Yhaaa walaupun gak semua mahasiswi sama sih, tapi mayoritas seperti itu. Biar singkat kaya balesan dosen, kali ini kita bahas dulu kaum ukhti UPGRIS—ladies first!

Make up

Alis hitam tebal yang simetris, wajah glowing nan licin hingga lalat yang nemplok pun bisa kepleset, pipi merah muda seperti habis ditonjok berhiaskan blush on (eh tapi ada juga ding yang make blush on di bawah mata), bibir merah campur-campur (ombre maksudnya), dan bulu mata yang lentik karena memakai maskara. Mahasiswi seperti ini kadang dapat kita temui di jurusan yang mayoritas adalah perempuan seperti jurusan kependidikan, kecuali PJKR loh yaaa walaupun jurusan kependidikan juga tapi PJKR mayoritas adalah laki-laki, pun kalau ada yang perempuan pasti tidak seberat itu make up-nya (keburu luntur cyinnn buat olahraga). Tapi gak semua mahasiswi dandan seperti itu yaaaaa. Masih ada kok yang polosan (tidak bermake up) ketika ke kampus.

Outfit of the day

Overall motif tanggung yang dipadukan dengan manset hitam ditambah pashmina diamond warna mocca diikat ke belakang, dipercantik dengan sepasang flat shoes; siapa yang sering menjumpai mba-mba seperti ini? Cung!

Ada juga yang memakai kemeja/batik, rok hitam polos, dan kerudung menutup dada—pokoknya guru banget laahhhh OOTD-nya. Namun ada juga yang bandel seperti aku yang notabene dari jurusan kependidikan tetapi memakai kaos, celana jeans, dan sneakers putih. Hehehe jangan ditiru yaa kalau peraturan di jurusanmu tidak membolehkan. Kalau mba-mba organisasi beda lagi, rok hitam kain, baju PDH kebanggan, sepatu pantofel ber-hak 5 cm, dan kerudung navy / coksu / merah maroon / kuning kunyit selalu jadi andalan.

Motor Matic

“Ora ninja ora cinta, ora supra ora mesra, ora beat ora so sweet,” begitu kata orang-orang yang self marketing alias sedang membangga-banggakan dirinya agar layak dilirik lawan jenis berdasarkan kendaraannya. Coba ke parkiran lalu lihat para ukhti ini motornya apa? Pasti jawaban mayoritasnya adalah motor matic. Jika ada motor bebek pun pasti tidak seberapa jika dibandingkan dengan motor matic. Tak jarang pula aku melihat para mahasiswi ini bonceng tiga tanpa memakai helm sambil ketawa-ketiwi dengan temannya ketika berangkat / pulang kuliah. Lihatlah betapa strongnya yang nyetir. Yang kaya gini bukan berarti cabe-cabean ya, mungkin maksud mereka adalah untuk menghemat bensin (males jalan) toh kosnya dekat dengan kampus (gak pake helm).

Tik-tok

Sekaranglagi musim corona jadi sementara kelon (kelas online) dulu alias kuliahnya di rumah. Entah efek gabut atau stress karena banyak tugas para ukhti ini memakai mukena untuk main tik-tok. “Yaaaa bebas dong, mukena mukena gue, hp hp gue,” begitu kata mereka. Mendung belum tentu hujan dan memakai mukena belum tentu ibadah.

Logat Medhok dan Ngapak

Tahu sendiri kan mayoritas mahasiswi UPGRIS adalah orang Jawa Tengah, yang mana Jateng deretan pantura berlogat medhok ala Soimah, dan Jateng bagian barat berlogat ngapak seperti orang-orang di acara TV Bocah Ngapa(k) Ya. Leh, Gagego, Nggonem, Aja kaya kue, Nyong, dll, sudah biasa terngiang di telingaku. Ya gak papa, kan logat itu termasuk ciri khas daerahnya masing-masing. Kalau aku ya lebih suka ngomong pakai ndas ndes ndas ndes, lawong aku asli Semarang. Jadi, tidak ada yang salah dengan logatku, logatmu, dan logat kita semua. Bagimu logatmu, bagiku logatku—yang penting aku dan kamu tetap jadi kita. Ehe.

Sudah hits, eksis, dan kekinian kah Starter Pack yang telah disebutkan? Jawabannya ya tergantung masing-masing individu. Hits, eksis, dan kekinian menurutku dan kamu saja belum tentu sama apalagi dengan semua orang. Selera orang tidak bisa disamaratakan. Kalau ada yang make up-nya menor gimana? Ya biarin, orang dia dandan untuk kepuasan dirinya sendiri bukan untuk dilihat kamu. Kalau ada orang yang style-nya gak banget gimana? Yo biarin, wong kamu gak biayain hidup dia kok. Kalau ada orang yang bonceng tiga gimana? Ya diingetin “motor itu maksimal dua orang ya mbak atau mbokya jalan aja tho dari pada membahayakan diri sendiri.” begitu misalnya. Kalau ada orang yang suka main tik-tok gimana? Ya gakpapa, masalahnya di mana? Wong kamu mau selfie pake efek ya molli ratusan kali aja gak masalah kok. Sifat bodo amat di sini penting selama apa yang mereka lakukan tidak merugikanmu. Jadi, atas dasar apa kamu ngejudge orang berdasarkan penampilan? Let people enjoy things, okay?

Penulis : RQN

Editor   : ADP