Sejarah nan Tak Tersentuh

Judul buku                  : Orang-Orang Oetimu

Penulis                         : Felix K. Nesi

Penerbit                       : Marjin Kiri

Cetakan                       : II, September 2019

Jumlah halaman           : 220 halaman

ISBN                           : 978-979-1260-89-3

            Membaca novel Orang-Orang Oetimu membuka lebar dunia sejarah yang lama tak terungkap. Pembaca akan disuguhkan peristiwa sejarah, yang bahkan tak pernah tersentuh dan dimuat, terutama dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Peristiwa sejarah ini sebagian besar menceritakan Timor Timur yang mulanya merdeka dengan nama Timor Portugis. Berlatar cerita pada tahun 1974, 1994, dan 1998 saat Indonesia masih dikuasai oleh rezim Soeharto, serta Timor Timur masih dalam jajahan Portugis, atau saat itu kerap disebut dengan Portugal.

            Felix, sang penulis yang berasal dari Nesam-Insana, Nusa Tenggara Timur membuka peristiwa panjang melalui tokoh Julio yang akan diberangkatkan ke Timor untuk membantu proses dekolonisasi negeri tersebut. Felix mengajak pembaca untuk perlahan-lahan masuk dalam peristiwa sejarah tersebut. Untuk menguatkan penceritaannya, Felix menambahkan beberapa istilah yang sering digunakan pada zaman jajahan tersebut. Seperti penyebutan Apodeti, PIDE, UDT, ASDT, Fretilin, dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut ia jelaskan di halaman awal buku. Namun, makna istilah asing tersebut tidak serta merta mudah diingat begitu saja. Sehingga dalam membaca harus kembali pada halaman awal untuk mengingat istilah tersebut. Apabila pembaca sudah asyik menikmati cerita, maka ada rasa enggan untuk kembali pada halaman awal, meski sebentar.

            Kehidupan Timor Timur yang dikisahkan oleh Felix, tidak seluruhnya berkenaan dengan sejarah saja, namun ia menyisipkan kisah percintaan, atau lebih tepatnya kisah seksual yang dilakukan oleh seorang tentara, Sersan Ipi dan Silvy, siswa SMA . Hal ini dapat dimaksudkan agar saat membaca perihal sejarah, pembaca tidak bosan dan datar begitu saja. Selain sisipan kisah seksual, Felix juga menambahkan kehidupan yang akrab dengan sopi: minuman keras. Sehingga tidak semua kalangan dapat menikmati novel ini, karena pada sampul pun tertera tulisan 19+.

            Beranjak pada bagian selanjutnya, Felix menghadirkan peristiwa Revolusi Anyelir. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1974 ini merupakan peristiwa yang mengakhiri kekuasaan Portugal di Timor Timur dan Afrika. Pada bagian ini, Felix berhasil mengangkat sejarah yang jarang atau bahkan tak pernah tersentuh. Sehingga pembaca yang sebelumnya awam, menjadi tahu bahwa sejarah Timor Timur (Timor Leste) tidak hanya seputar pernah menjadi salah satu provinsi di Indonesia pada 1976-1999 dan akhirnya resmi merdeka pada tahun 2002 saja.

            Peristiwa sejarah lain yang dihadirkan Felix adalah invasi Indonesia terhadap Timor Timur. Dalam kisahnya, Felix menceritakan bahwa saat itu perang di Timor Timur meluas, namun masyarakat tidak menyerah begitu saja. Tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia justru membuat mereka semakin mencintai tanah airnya. Tak semua masyarakat berani menghadapi tindakan tersebut. Ada pula yang meninggalkan rumahnya dan mendatangi daerah pesisir untuk mengungsi, salah satunya yang disebutkan dalam cerita adalah Atambua. Lepas dari kekacauan perang di Timor Timur, mereka tidak bisa hidup dengan tenang begitu saja. Mereka dilanda krisis pangan, trauma perang, pengangguran, dan masalah yang umum dialami saat pengungsian.

            Cerita yang berlatar rezim Soeharto ini pun tidak luput mengisahkan keadaan pada masa itu. Seperti rakyat yang menginginkan revolusi. Hal ini dapat dilihat dalam cerita, yakni ditunjukkan dengan tembok yang dipenuhi coret-coretan mural revoluisoner, yang diduga dilakukan oleh orang-orang partai. Lalu ditambah dengan peristiwa saat para mahasiswa sedang gandrung dengan gerakan reformasi menuntut turunnya Presiden Soeharto. Kemudian penyiksaan, perkosaan, pembunuhan keluarga yang dianggap sebagai pembelot. Tentu masih ada lagi yang lainnya. Hal ini menunjukkan betapa otoriternya pemerintahan saat itu.

            Melalui novel yang awalnya akan diterbitkan dengan judul “Hujan” ini, Felix seakan menguji kesabaran pembaca, melatih ingatan terutama saat bagian penokohan. Bagaimana tidak, Felix menyusun ceritanya dengan alur campuran. Pada bagian awal, pembaca seakan langsung disuguhkan pada akhir ceritanya, yakni tahun 1998. Lalu pembaca diajak mundur begitu jauh menuju tahun 1974. Pembaca seakan diombang-ambingkan dengan alur cerita. Selain itu, tokoh yang dimnculkan Felix begitu banyak. Berdasarkan penghitungan, katakanlah ada lima belas tokoh yang dimunculkan. Semua tokoh dalam cerita mempunyai peran masing-masing, yang membuat cerita melebar.

            Melalui novel Orang-Orang Oetimu ini menumbuhkan kesadaran bahwa masih banyak sejarah yang perlu diselami, yang butuh untuk disibak. Khususnya sejarah daerah timur Indonesia. Menurut sumber yang akurat, hal ini pula lah yang melatar belakangi Felix menulis novel ini. Ia merasa masih banyak sejarah di Indonesia timur yang tidak dibuka. Asumsi ini tampaknya benar, pasalnya jika mengingat pelajaran sejarah masa sekolah, rasanya kita hanya disuguhi peristiwa sejarah yang apik-apik saja, yang memuat kisah perjuangan mencapai kemerdekaan. Felix mengingatkan bahwa sejarah setelah kemerdekaan pun perlu rasanya diajarkan. Meskipun sejarah tersebut gemilang atau bahkan kelam sekalipun.

Penulis : NH