Nikah Muda dan Romantisasi Perkawinan Anak

pixabay.com

Midah anak manis Haji Abdul, semasa kecil apa yang ia sukai haruslah dengan persetujuan Bapak. Ia tak bebas memilih, untuk mendengarkan musik keroncong saja ia harus menutup rapat pintu kamar. Pernah suatu waktu, ia dipegoki oleh bapaknya tengah menyetel kaset keroncong, melihat itu Haji Abdul marah tanpa ampun. Digamparlah pipi Midah keras-keras.

Selepas peristiwa itu, Midah semakin jauh dengan kedua orang tuanya. Walau satu atap dan darah daging Ibu Bapaknya, Midah merasa keberadaanya sudah tak penting lagi. Sampai tiba waktunya ia dipaksa kawin. Dan perkawinan nampaknya tak menyumbangkan kebahagiaan untuk Midah. Suami yang dipandang beradab dan sugih oleh Bapaknya ternyata memiliki sifat yang jauh berbeda. Kini melalui suara emasnya ia mengais rezeki untuk menghidupi benih yang dikandungnya.

Midah adalah seorang anak dari orang tua yang khawatir akan masa depannya. Kekhawatiran orang tua memang wajar, namun salah apabila tidak dibarengi oleh ragam referensi (wawasan, pengetahuan). Naas orang tua Midah tak mengantongi itu. Mereka memandang materi yang melimpah adalah sumber kebahagiaan anaknya. Alhasil Midah kehilangan masa remajanya, di mana ia seharusnya mengembangkan hal yang ia sukai.

Perkawinan Anak

Membaca kisah yang dilalui tokoh bernama Midah dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Midah: Si Manis Bergigi Emas mengingatkan saya pada peristiwa-peristiwa yang tumbuh di sekitar saya. Tak jauh berbeda, kisah Midah masih bisa kita temui sekarang. Saat ini, masih banyak anak-anak perempuan yang dinikahkan karena faktor ekonomi. Alih-alih bisa membuat anak bahagia atas perkawinannya, mereka tidak sadar bahwa perkawinan anak bisa memicu beragam problem. Tentunya, dalam perkawinan tersebut, perempuanlah yang akan menanggung beban yang lebih berat ketimbang laki-laki.

Seperti dilansir dari Lokadata.id, menurut Khotimun Sutanti, sebagai anggota Lembaga Bantuan Hak Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) efek negatif dari perkawinan anak akan banyak menimpa  perempuan. Jika dilihat dari sisi psikologis, anak masih rentan untuk membina bahtera rumah tangga. Ia menambahkan, bahwa usia 18 tahun ke bawah akan sangat beresiko  menganggu kesehatan organ reproduksi perempuan.

Isu perkawinan anak adalah hal yang teramat kompleks dan melimpah pula faktor yang memicunya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Djamilah dan Reni Kartikawati berjudul “Dampak Perkawinan Anak di Indonesia” menyimpulkan beberapa faktor mengapa terjadinya perkawinan anak. Faktor pendidikan merupakan yang paling utama, para remaja tidak paham tentang kesehatan reproduksi. Di Indonesia, membicarakan hal berbau seks masih dinilai tabu. Jangankan untuk membahas itu, apabila kita mengatakan “vagina”, “penis” di depan umum, pasti langsung dipelototi banyak pasang mata, atau dicap nakal. Menurut Djamilah, akibatnya para remaja tergiur melakukan aktivitas seksual di masa berpacaran dan terjebak dalam lingkaran yang sulit dilepaskan. Efeknya adalah kehamilan yang tidak diinginkan, sehingga memaksa mereka untuk putus sekolah lalu menikah.

Selanjutnya, faktor tradisi, adat dan atau agama. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa anggapan perkawinan anak menjadi jalan yang ditempuh untuk meyelesaikan masalah kehamilan tidak diinginkan. Hal itu dikarenakan untuk menghindari dosa dan anak yang dikandung bisa memiliki status yang jelas. Terakhir yaitu kemiskinan yang juga menjadi faktor penyebab perkawinan anak. Kemiskinan membuat para orang tua lebih memilih menikahkan anaknya secepat mungkin agar meringankan beban ekonomi. Kejadian tersebut, menurut Djamila sering dialami oleh anak perempuan dibanding laki-laki.

Jika menengok lingkungan sekitar, pengamatan saya mengatakan bahwa sosiokultural sangat erat hubungannya dengan perkawinan, khususnya di pedesaan. Kultur yang berkembang di masyarakat akan mempengaruhi anak dalam memandang masa depan. Seperti yang dikatakan Vygotsky psikolog asal Rusia, bahwa perkembangan kognitif anak dipengaruhi oleh interaksi dengan orang-orang yang lebih maju pemikirannya, seperti orang tua.

Dalam hal ini, karena kultur yang ada di lingkungan saya masih kental dengan patriarki maka orang tua akan sangat menjaga ketat anak perempuan mereka. Di kehidupan sehari-hari, kegiatan mereka dibatasi. Seperti tidak boleh keluar saat malam, pantang berpergian jauh bila sendiri. Alasan-alasan yang orang tua lontarkan mengenai larangan tersebut karena mereka perempuan. Sungguh alasan yang tidak rasional. Di sisi anak, mereka terima saja alasan seperti itu. Perlakuan seperti itu lambat laun juga akan dimiliki oleh si anak perempuan didukung dengan anak tersebut tidak memiliki akses terhadap pengetahuan (misal mengenai gender equality). 

Hasilnya adalah para orang tua akan segera menikahkan anak perempuannya. Mengorbankan pendidikan yang harusnya dienyam oleh anak perempuan mereka karena takut dicap “perawan tua”. Namun tak cukup sampai di situ saja. Pada kenyataanya, perkawinan yang dilalui mereka tidak bertahan cukup lama dan banyak diwarnai oleh KDRT. Jika ditelusuri lebih dalam hal tersebut dipacu oleh ekonomi yang lemah, mental dan psikologis yang belum siap.

Tren yang berlangsung di media sosial pun seia sekata dengan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal saya. Beberapa waktu belakangan ini, media sosial dipenuhi oleh akun-akun “hijrah” yang mengkampanyekan menikah di usia muda. Dari beberapa akun “hijrah” yang saya telusuri, alibi menikah muda adalah untuk menjauhi pacaran. Mereka beranggapan bahwa pacaran merupakan akar dari perzinahan yang mengakibatkan hamil di luar nikah. Katakan saja pacaran itu haram, mengapa solusi yang ditawarkan adalah pernikahan? Mengapa tidak menarasikan untuk mengembangkan bakat dan hobi? Mengapa tidak memberikan informasi mengenai pentingnya kesehatan reproduksi?

Memang tidak semua akun yang berbau islami menyampaikan hal serupa. Namun karena banyak “oknum” yang bersembunyi di balik akun berlabel Islam hasilnya adalah banyak follower mereka yang masih belasan tahun terdoktrin iming-iming menikah muda. Mereka membayangkan indahnya mahligai pernikahan tanpa menyadari hal-hal buruk yang terjadi saat menikah. Khayalan demikian akan menimbulkan shock  jika mendapati pernikahan mereka tidak semanis yang dibayangkan. Kalau kata teman saya yang sudah menikah dan memiliki anak, menikah itu bikin ruwet, hanya awalnya saja yang indah, sehabis itu kita sibuk ngurusin bayar listrik, tagihan air, dan tetek bengek lainnya. Apalagi ini yang nikah muda. Meskipun tidak selalu yang menikah muda akan mengalami kegagalan. Apabila perkawinan tidak memikirkan kesiapan fisik, psikologis, mental, dan ekonomi, rumah tangga akan rentan terhadap perceraian.

Romantisme Perkawinan Anak

Media sebagai penyalur informasi pada masyarakat juga seharusnya mempunyai peran untuk membawa publik kritis terhadap isu ini. Pemberitaan perkawinan anak di media mainstream nyatanya dibalut dengan bingkai romantis. Saya acap kali menemui pemberitaan anak perempuan berumur belasan tahun menikah dengan pria yang jauh lebih tua. Media kemudian menggambarkan hal tersebut merupakan bentuk nyata dari “Cinta itu buta” atau “Cinta tak kenal usia”.

Dalam sebuah laporan di kanal Youtube Remotivi (lembaga studi dan pemantauan media) menjelaskan bahwa media gemar membingkai perkawinan anak dalam urusan cinta, seks dan kebahagiaan. Masih dikutip dari laporan Remotivi, pemberitaan di media akhir-akhir ini semacam menganut logika viral. Karena sudah tersebar luas di media sosial, akhirnya media akan mengangkatnya menjadi sebuah berita. Seperti yang terjadi pada setiap berita mengenai perkawinan anak. Akhirnya pemberitaan berkutat hanya soal cinta tanpa mempertanyakan lebih jauh mengapa perkawinan tersebut terjadi.

Pemerintah sejak 2019 sudah memutuskan perkawinan anak adalah sebuah tindakan ilegal. Dikutip dari detik.com, DPR dan Pemerintah telah menyepakati revisi UU Perkawinan terkait usia minimum boleh menikah menjadi 19 tahun untuk perempuan maupun laki-laki. Melalui peraturan tersebut, pemerintah sudah sedikit peka terhadap kesetaraan gender. Masalah perkawinan anak juga dibahas dalam SDGs (Suistanable Development Goals) pada poin kelima yang berorientasi memberdayakan kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan. Salah satu target dalam poin tersebut yakni menghapus semua praktik berbahaya, seperti perkawinan usia anak, penikahan dini dan paksa, serta sunat perempuan.

Melalui data dari BPS (Badan Pusat Satistika) presentase wanita yang berumur 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun masih mencapai 12 persen di tahun 2015. Angka tersebut tentunya harus ditekan agar praktik perkawinan anak dapat dihapuskan. Laporan Pencegahan Perkawinan Anak yang disusun ole BPS dengan bantuan UNICEF dan Puskapa UI menyebutkan anak perempuan di daerah perdesaan dua kali lebih mungkin untuk menikah sebelum usia 18 dibandingkan anak perempuan di perkotaan.

Secara kerangka hukum dalam UU Perkawinan nomor 16 tahun 2019, usia 21 tahun adalah usia menikah legal di Indonesia (tanpa memerlukan persetujuan orang tua). Namun karena adanya dispensasi perkawinan maka tidak ada usia minimum, sehingga memungkinkan perkawinan anak tetap terjadi. Perkawinan anak adalah sebuah ironi, bukan romantisasi dongeng-dongeng dunia fantasi. Untuk mencegahnya pun perlu dilakukan secara struktural. Mulai dari Pemerintah hingga lingkup paling dekat dengan masyarakat, seperti rukun tetangga dan karang taruna. Meskipun perlu waktu lama agar perkawinan anak benar-benar tidak ada, mengawalinya dari sekarang adalah langkah paling tepat.

Penulis   : C

Editor     : C