Kasus KDRT Meningkat Selama Masa Pandemi, Mesti Berbuat Apa?

fixabay

Saat ini masyarakat Indonesia bahkan dunia tengah menjalankan Social Distancing yang merupakan himbauan dari WHO dan juga pemerintah. Langkah ini sebenarnya sudah cukup tepat untuk dilakukan, demi maksimalnya pencegahan persebaran COVID-19. Akan tetapi, ada saja dampak yang merugikan dari social distancing ini. Satu yang paling urgent namun banyak dilupakan, yaitu meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Beberapa lembaga dan aktivis sebenarnya telah memprediksi adanya peningkatan kasus yang signifikan. Yang mana terbukti, bahwa  beberapa negara di berbagai belahan dunia melaporkan peningkatan kasus KDRT yang sangat signifikan. Dilansir dari kumparan.com, badan PBB mencatat bahwa satu dari tiga perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya sendiri. Masalah ini pun bisa meningkat saat terjadi krisis, seperti dalam masa pandemi ini. Awal tahun 2020 di China, yang mana adalah puncak kasus COVID-19 di negeri tirai bambu itu, angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat tiga kali lipat; dari angka 47 kasus menjasi 162 kasus. Di Prancis, yang juga tengah mengalami puncak wabah, kasus kekerasan domestik meningkat sampai 32-36 persen.

Beberapa dampak Social Distancing seperti krisis pangan, kenaikan harga sembako, PHK massal, WFH, dan lain sebagainya disinyalir menjadi penyebab utama maraknya KDRT ini. Sembako mahal membuat perempuan, yang menjalankan siklus keuangan dalam rumah tangga, menjadi makin tertekan; PHK besar-besaran yang membuat stres suami, yang pada akhirnya melampiaskan kekesalannya pada sang istri; anak yang merengek minta dibantu mengerjakan tugas yang bergunung-gunung, yang mana kebanyakan disasarkan pada sang ibu; apabila hal-hal tersebut tidak direspon dengan baik dan seimbang, maka angka pertengkaran dalam rumah tangga hingga KDRT pun rasanya tak berlebihan bila merangkak naik seiring waktu. Penyebab yang paling mencolok, tentu saja masalah perekonomian keluarga. Namun, tak menutup kemungkinan pula adanya kekerasan domestik yang terjadi pada kaum bapak. Hanya saja, berhubung sebagian besar tulang punggung rumah tangga adalah laki-laki, maka perempuan dan anak-anak pun menjadi sangat rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut UU PKDRT No.23/2004, kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam rumah tangga. Maka perlu diingat betul bahwa korban KDRT tak melulu hanya perempuan dan anak-anak, tetapi memang dua kaum tersebutlah yang rawan dan rentan menjadi korban kekerasan domestik. Kalau sudah begini,  rumah yang semestinya menjadi tempat teraman dan nyaman saat situasi seperi ini, seakan kehilangan fungsi dan ruhnya.

Terkadang, korban KDRT bingung mesti berbuat apa bila terjadi kekerasan domestik di dalam keluarganya.Tak jarang, kaum hawa bahkan menganggap kekerasan rumah tangga adalah aib keluarga. Pemikiran ini pun tak lepas dari anggapan umum penganut patriarki, di mana perempuan adalah “makmum” dari kaum lelaki, yang mana adalah “imam” dari keluarga. Hal ini pun membuat permasalahan makin tambah runyam, mengingat pada dasarnya kekerasan domestik bukanlah hal sepele, dan perlu dikonsultasikan kepada lembaga terkait, atau minimal bercerita kepada orang yang dipercaya.

Di sini, perlu adanya tindakan dari pihak-pihak terkait, seperti pemerintah yang berwenang, LSM, Komnas perempuan dan anak-anak, maupun PKK, untuk lebih mengedukasi masyarakat mengenai kekerasan dalam rumah tangga, dan bagaimana mengatasinya; misal seperti sosialisi online tentang KDRT yang memberitahu langkah apa yang harus mereka lakukan, atau bahkan panduan  pembuatan pengaduan online. untuk kita sendiri, jika ada anggota keluarga kita bertengkar, tidak ada salahnya untuk menjadi penengah. KDRT bukan masalah pribadi antar relasi namun telah menjadi masalah sosial.

Penulis : EAM

Editor   : ADP