Kealpaan Study from Home

Sumber foto: Internet

Akhir-akhir ini, dunia sedang dilanda pandemi yang mematikan, yakni virus corona yang keberadaannya sudah menyebar hampir seluruh negara di dunia. Dilansir melalui kompas.com, sebanyak 200 negara telah dikonfirmasi tersebar virus corona. Indonesia termasuk salah satunya. Beragam kebijakan, keputusan, dan peraturan mulai difatwakan oleh pemerintah untuk memerangi virus tersebut. Berbagai sektor pun mengalami dampak atas keberadaan virus corona. Salah satunya adalah dalam ranah pendidikan.

            Beberapa saat setelah virus corona merebak di Indonesia, pemerintah (dalam bidang pendidikan) mengeluarkan keputusan agar para siswa hingga mahasiswa untuk study from home. Artinya, mereka akan melakukan kegiatan belajar dari rumah, tetapi tetap atas intruksi guru. Entah melalui media apapun. Namun yang ditekankan oleh Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah memanfaatkan teknologi. Tunggu dulu, hal ini tampaknya perlu ditelaah lebih dalam. Pasalnya, tidak semua kalangan dapat dengan mudah untuk mengakses teknologi, termasuk gawai beserta pirantinya, dan internet adalah salah satunya.

             Study from home yang digalakkan tentu saja dialami juga oleh siswa yang bertempat tinggal di pedesaan. Namun ada beberapa hal yang luput dari perhatian pemerintah yang menganggap kebijakan study from home baik-baik saja dalam pelaksanaannya. Di pedesaan, orang tua siswa tentu berasal dari masyarakat yang memiliki beragam pekerjaan. Mayoritas bekerja sebagai petani, lalu yang lainnya menjadi peternak, buruh pabrik, kuli bangunan, pedagang, dan sebagainya.

 Dari seluruh orang tua yang memiliki beragam pekerjaan tersebut, tentu tidak semuanya paham dengan penggunaan gawai. Jangankan menggunakannya, memilikinya saja belum tentu. Ini adalah salah satu kendala yang terjadi.

            Sebelum siswa menjalankan study from home, guru tentu menyampaikan pemberitahuan sebelumnya. Saya pun menanyakan pemberitahuan tersebut kepada salah seorang siswa kelas satu SD yang ada di kampung saya.  “Jarene Bu Guru libur” jawabnya. Ia menganggap study from home sebagai sebuah liburan panjang. Tak ayal, ia setiap hari bermain kian kemari ke rumah temannya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia memiliki tanggungan untuk belajar dari rumah. Orang tuanya yang seorang petani pun abai, bahkan jarang menyuruhnya untuk belajar. Mereka sibuk pulang-pergi ke sawah. Ini adalah permasalahan yang disebabkan oleh miss komunikasi.

            Selain miss komunikasi, pelaksanaan study from home tampaknya kurang maksimal karena seperti yang disampaikan di atas bahwa tidak semua orang tua memiliki gawai. Suatu waktu, seorang guru mengirimkan sebuah tugas melalui aplikasi berbagi pesan. Orang tua yang memiliki gawai, tentu akan menyampaikan tugas tersebut kepada anaknya, lalu mengerjakan, dan mengumpulkan tugasnya. Bagi siswa yang orang tuanya tidak memiliki gawai, ia akan tenang-tenang saja karena tidak mengetahui kalau ada tugas semasa study from home. Ia akan menikmati ”liburan panjangnya”. Alhasil, tugas pun akan tersampaikan hanya pada beberapa siswa saja.

            Permasalahan tidak berhenti pada pada persoalan punya atau tidak punya gawai saja. Orang tua yang memiliki gawai pun terkadang masih menghadapi permasalahan, yakni jaringan internet yang tidak mumpuni. Sang anak selesai mengerjakan, tugas siap dikumpulkan. Alih-alih ingin mengumpulkan tugas tepat waktu, justru pengumpulannya molor disebabkan jaringan internet yang tidak stabil.

            Dari beberapa kasus di atas, ada hal yang kurang tepat diterapkan saat study from home. Pemerintah khususnya Kemdikbud tak boleh abai dalam hal ini, khususnya pada sekolah yang terletak di pedesaan. Pasalnya kebijakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi, salah satunya melalui gawai adalah sebuah kealpaan. Mengingat tidak semua siswa atau orang tua siswa memiliki gawai. Guru dalam hal ini harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan.

            Jika guru berhasil menemukan cara yang ampuh dalam pelaksanaan study from home, maka siswa dan guru akan tetap bisa menjalankan kewajibannya masing-masing dari rumah, yakni belajar dan mengajar. Namun hal ini pun tidak bisa berjalan dengan lancar apabila salah satu dari mereka, baik guru ataupun siswa tidak suportif. Maka kedua unsur tersebut harus saling kooperatif.

Penulis             : NH

Editor              : C