Demo Penolakan Omnibus Law di Gedung DPRD Jateng Berujung Rusuh

Semarang-Vokalpers.com-  Aksi unjuk rasa mahasiswa terkait penolakan pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja di DPRD Jawa Tengah,  Jalan Pahlawan Kota Semarang, Rabu (7/10) berakhir ricuh.

Massa aksi mulai berdatangan di komplek Gedung DPRD Jawa Tengah  sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka  meneriakan orasi, serta membawa spanduk dan poster berisikan tuntutan. Sejumlah tuntutan di antaranya membatalkan omnibus Law, mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan RUU Pekerja Rumah Tangga, stop PHK selama pandemi, pemerintah fokus angani pandemi, stop kriminalisasi aktivis. Massa aksi berasal dari kalangan mahasiswa dan  buruh yang tergabung oleh Gerakan rakyat mengugat (Geram).

Tak kunjung mendapatkan respon, massa mulai memanas hingga terjadi aksi mendorong sampai merobohkan gerbang “Gedung Berlian”. Adanya kejadian tersebut akhirnya membuat perwakilan anggota DPRD Jateng  dari Fraksi Demokrat menemui para demonstran.

“Kebetulan yang ada di sini ada kami. Jadi partai kami pun menolak. Partai yang walk out saat rapat pengesahan Undang-Undang itu. Kami bersama dengan panjenengan semua untuk memperjuangkan, “tutur Bambang Eko Purnomo, Wakil Ketua Bapemperda DPRD Jateng saat menemui massa aksi.

 Saat ditemui oleh Bambang Eko Purnomo, para pendemo berteriak-berteriak mengapa yang berani keluar hanya dari perwakilan DPRD Fraksi Demokrat saja, padahal masih banyak partai-partai yang lain. “Saya tahu partai bapak menolak. Partai yang lain Dimana?,” salah satu pendemo berteriak. “Monggo sampaikan kepada rekan-rekan wartawan utama panjengan inginya partai apa sampaikan. Kebutulan kami dapat tugas untuk mewakili yang ada di DPR ini,”sahut Bambang Eko Purnomo.

Selain itu,  Bambang Eko Purnomo mengharapkan pemerintah mendengar tuntutan dari para demonstrasi. Ia berjanji akan menyampaikan suara para pendemo di tingkat yang lebih tinggi yakni pemerintah pusat dan DPR RI.

“ Harapan kami juga pemerintah mendengar tuntutan dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat. Kita hanya menyampaikan kepada pimpinanan yang akan dibawa lebih tinggi karena Jateng kan hanya tingkat provinsi, ungkap Bambang Eko Purnomo.

Sementara itu, Desmon Tampubolon Ketua DPC GMNI Semarang mengatakan seluruh elemen di Jawa Tengah mengikuti aksi penolakan pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law. Mulai dari kalangan Cipayung, buruh, dan elemen pergerakan di Kota Semarang.

“Seluruh elemen di  Jawa Tengah antara lain ada teman-teman Salatiga, Cipayung, buruh dan elemen  pergerakan di Kota Semarang, Tuntutan terkhusus terutamanya gagalkan pengesahan Undang-undang Omnibus Law dan segera mengesahkan RUU PKS dan kemudian pemerintah agar fokus menangani pandemi” seru Desmon Tampubolon.

 Dalam aksi ini tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker dan kontak dengan siapapun harus membawa hand sanitizer namun kondisi di lapangan hanya jaga jarak belum bisa di terapkan,” tutur Desmon Tampubolon, Ketua DPC GMNI Semaranng sekaligus Korlap Cipayung.

Tidak hanya itu saja, Desmon berharap para demonstran diberi kesempatan untuk dapat menemui pimpinan DPRD dan Gubernur Jawa Tengah. “Sampai menang. Harapan kita segera di selesaikan. Jika berkenan pimpinan DPRD dan mas Ganjar bersedia menghadiri teman-teman suara dari rakyat mungkin kerumunan massa akan berkurang, “ ungkapnya.

Pantauan awak LPM Vokal, para pendemo yang semula aman dan tidak ricuh, mulai memanas sejak siang hingga tidak terkendali menjelang sore. Hal itu disebabkan ada beberapa orang yang menjadi provokator dengan melempar batu, pecahan beling hingga melempar mercon ke arah petugas. Saat itu, petugas langsung mengerahkan water cannon dan gas air mata ke arah para demonstrasi. Polisi pun menangkap para demonstran yang diduga sebagai provokator.

 Aksi yang berujung ricuh mengakibatkan salah satu demosntran terkena pelemparan botol air mineral dan benda tumpul  dari demonstran lain. Adalah Tindy, anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Polines, terkena lemparan benda tumpul hingga mengalami luka di bagian kepala.

Rekan Tindy, Fachri, mengatakan kejadian tersebut terjadi ketika rekannya tengah melakukan peliputan. Tiba-tiba ada lemparan potongan besi sepanjang telunjuk ke arah Tindy hingga menyebabkan luka pada bagian kepala. Tyndi kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara.

“Kejadian Tindy saat  itu sedang melakukan motret aksi. Kejadianya seusai perwakilan dari DPRD mengasih surat itu pergi, tiba-tiba ada yang teriak-teriak  dan tidak tahu arahnya dari mana ada pelemparan potongan besi. Persis di depan mata saya itu lemparannya terkena di kepala mbak Tindy, “ tuturn Fachri.

Penulis : DTB/MW

Editor  : C