Keberpihakan dalam Berdemokrasi, Perlukah?

Lima Oktober menambah satu tanggal penting yang wajib dilingkari di kalender rumah  dengan keterangan “malam hajatan wakil rakyat.”  Golongan satu  persen ini nampaknya memang gila kerja, dan sungguh-sungguh mencerminkan jargon pemerintah; kerja, kerja, kerja-ngerjain rakyat. Bagaimana tidak, mereka bekerja tak kenal waktu saat membahas Omnibus Law. Sangat pas dengan penggalan lirik dari Band Armada, “Ku rela pergi pagi pulang pagi, hanya untuk mikir investasi”.

Fakta  disahkannya UU Cipta Kerja di tengah pandemi oleh Pemerintah dan DPR membuat rakyat di luar golongan satu persen menjadi geram. Media sosial menjadi begitu ramai seperti departement store menjelang lebaran, atau masjid saat malam pertama tarawih. Banyak yang berkoar-koar meminta keadilan, tidak terima UU Cipta Kerja disahkan. Meme dan berbagai postingan bernada sindiran hingga kutukan untuk Pemerintah dan DPR terus bermunculan. Postingan yang menarik akan dibanjiri like dan dibagikan oleh ribuan akun. Apa yang terjadi di media sosial memang wajar, dan justru akan sangat aneh bila tidak bermunculan tagar #TolakOmnibusLaw #MosiTidakPercaya.

Akan tetapi, di samping cuitan atau unggahan  yang menolak  Omnibus Law, banyak juga orang-orang yang pro dengan ulah Pemerintah dan DPR; entah mereka itu Buzzer ataupun simpatisan pemerintah garis keras. Langkah yang dilakukan mereka pun cukup manipulatif; membuat tagar, mengalihkan isu dengan narasi provokatif dan cukup toksik. Tidak menuntut kemungkinan, unggahan mereka yang semacam itu mampu mempengaruhi masyarakat yang masih kebingungan dalam menentukan sikap.

Pro dan kontra dalam menanggapi setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah memang hal yang lumrah. Dari kedua pihak tersebut sama-sama memiliki alasan yang  kuat untuk membela pendapatnya. Namun saya cukup penasaran, alasan sebenarnya dari mereka yang memilih pro. Apa karena telah diundang ke istana?

Narasi yang ditulis oleh mereka mengatakan bahwa banyak “ahli tafsir” dadakan padahal tidak paham sepenuhnya isi dari UU Cipta Kerja. Mereka menanyakan apakah  pihak kontra sudah membaca keseluruhan UU, mengasumsikan bahwa banyak hoax bermunculan karena tafsir asal-asalan. Narasi demikian tentu saja cepat menyebar dan menuai keresahan netizen.

  Hal itu membuat banyak orang menjadi terombang-ambing, bingung harus memilih mengikuti arus yang mana. Pertanyaan mengenai sudah membaca isi keseluruhan atau belum seperti itu kadang bisa menyesatkan banyak orang.  Merasa salah bersikap, alih alih terbawa arus yang sebaliknya. Ada orang yang punya waktu  penuh untuk berkonsentrasi memahami maksud teks dalam UU yang susah dipahami. Sedangkan buruh-buruh pabrik, pekerja harian, atau bahkan mahasiswa sendiri tidak punya cukup waktu untuk membaca keseluruhan. Tidak, atau belum membaca seribu lembar UU Cipta Kerja bukan halangan yang menyebabkan seseorang itu tidak boleh bersikap kontra, ataupun pro sekalipun.

Biarpun membaca seribu lembar draft  UU sebelum dan sesudah disahkan sampai tuntas, belum tentu juga si pembaca akan paham.  Tetapi kita punya alternatif lain, ada ahli hukum yang lebih berkompeten untuk  menerjemahkan pasal demi pasal. Ada peran media yang sangat vital untuk menginformasikan kebenaran.  Ada banyak non-government organization (NGO) yang membantu kita yang masih awam dengan bahasa hukum. Ada serikat buruh yang mewakili suara para buruh. 

Dalam menentukan sikap tentunya banyak hal yang menjadi pertimbangan. Kuncinya dalam keadaan seperti ini, adalah diri sendirilah yang semestinya harus dipaksa untuk kritis. Adalah kita yang mesti lebih rajin untuk membaca dan memfilter informasi yang berdatangan; sudahkah mengikuti berita dari berbagai perspektif baik yang bersumber dari pihak pro ataupun kontra.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah, kenyataan bahwa pengesahan UU Cipta Kerja secara mendadak tak mampu menimbulkan kecurigaan sedikitpun dalam benak mereka yang memihaknya. Sudah jelas UU Ciptaker ini tidak hanya memuat masalah ketenagakerjaan, namun juga banyak hal di dalamnya, termasuk soal lingkungan. Kita juga bisa melihat dengan jelas bagaimana jalannya sidang dan pengambilan keputusan di dalam sidang tersebut  oleh DPR.  Aksi saling serang kata-kata, aksi mematikan microphone, interupsi yang tak dilayani dengan baik, pembuatan draft  dengan sembunyi-sembunyi, dan masih banyak lagi hal-hal aneh  semakin meyakinkan saya bahwa memilih menjadi kontra adalah pilihan yang benar. Jadi, untuk hari ini dan esok seterusnya kamu akan di pihak mana? Meski, tak memihak pun tak apa; selama apatimu tak membunuh nuranimu sebagai bagian dari suatu bangsa. Begitukah?

Penulis : Wdy, C

Editor: C, ADP