Empat Mahasiswa Tertangkap Aparat, BEM UPGRIS Gelar Aksi Solidaritas dan Pernyataan Sikap

Semarang- Vokalpers.com- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengadakan aksi solidaritas pada Selasa malam (13/10), di depan Gedung Balairung UPGRIS.

Aksi tersebut didasari atas penangkapan 4 mahasiswa yang ditetapkan sebagai tersangka kasus demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di depan gedung DPRD, Jawa Tengah (Jateng) yang berakhir ricuh. Keempatnya ditangkap diduga karena melakukan perusakan saat aksi pada Rabu (7/20).

Peserta aksi berasal dari perwakilan Ormawa Lemawa, PMII, dan Sapma PP UPGRIS dengan total peserta aksi sekitar 50 orang. Massa aksi membentangkan poster yang berisikan tulisan” Bebaskan Tahanan Mahasiswa” dan “Hentikan tindakan represif aparat terhadap gerakan rakyat”.

Melalui pantauan awak Vokalpers, aksi solidaritas tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker. Sebelum aksi dimulai, peserta aksi dicek suhu tubuh menggunakan thermogun. Namun, protokol untuk menjaga jarak masih sulit untuk dilakukan oleh peserta aksi.

Aksi dibuka oleh Wakil Presiden Mahasiswa, Reza Naufal Azzami menyampaikan tentang pandangan aksi solidaritas yang akan dilaksanakan malam itu. Orasi dan sambutan disampaikan oleh Presiden Mahasiswa Aditya dan Deny Makhmud sebagai Menteri Polhukam BEM UPGRIS. Mereka menyuarakan tentang rasa solidaritas terhadap kawan yang tertangkap serta rasa kecewa atas tindakan represifitas aparat.

Peserta aksi juga menyalakan lilin yang merupakan simbolis rasa kekecewaan sekaligus berdoa bersama yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII UPGRIS, Haris. Setelah pembacaan doa bersama, Perwakilan dari Teater Gema menampilkan musik akustik.

Salah satu peserta aksi, Hanung Suryo Kuncoro mengatakan aksi solidaritas ini perlu diimplementasikan karena sebagai mahasiswa tidak boleh berdiam diri saja, melainkan harus bergerak.

“Memperlihatkan solidaritas antar Mahasiswa itu ada. Kalo memang hal-hal yang dzolim tidak hanya di FTV saja di realita memang ada. Kita mahasiswa sebagai penggerak ya bergerak dalam hal ini. Kita tidak bisa berdiam saja kalau rekan kita dalam kesulitan” ungkap Hanung.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa Aditya mengungkapkan aksi solidaritas merupakan bentuk kepedulian antar mahasiswa terkait 4 mahasiswa yang tertangkap saat aksi tolak Omnibus Law di Gedung DPRD Jateng.

“Memang jelas ya tujuannya untuk aksi solidaritas, karena menyikapi adanya aksi 7 Oktober di depan gedung DPRD Jawa Tengah tentang tolak Omnibus Law. Pasca aksi ada 4 mahasiswa universitas di Semarang tertangkap, “jelas Aditya.

Selain itu, Aditya menjelaskan 4 Mahasiswa yang tertangkap tersebut berasal dari Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Diponegoro, dan Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Aksi solidaritas ini merupakan langkah lanjutan dari aksi solidaritas di Tugu Muda pada Minggu (11/10). Hasilnya yaitu dengan mengadakan aksi solidaritas di lingkup internal masing-masing Universitas.

“Kelanjutan dari aksi solidaritas tersebut, akan diadakan konsolidasi akbar se-Semarang raya, yang mana setiap universitas mengajukan tuntutan dan diambil poin-poin tuntutannya kemudian tuntutan itu akan diserahkan kepada pihak yang berwenang” imbuh Aditya lagi.

Berikut ini merupakan 3 tuntutan dari BEM UPGRIS saat aksi solidaritas tersebut, yaitu:

  1. Mengecam keras tindakan represif dari aparat kepolisian dan tidak mengulangi kembali
  2. Meminta Polrestabes Semarang untuk menjamin kesejahteraan dan hak-hak kawan-kawan mahasiswa yang menjadi tersangka
  3. Mengajak seluruh mahasiswa ugris untuk selalu berani menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan DPR.

Reporter : DTB, EAV
Editor : C