Serba-Serbi Pemira

Kuliah hahahihi tiba-tiba Pemira (Pemilihan Raya) sudah di depan mata saja. Skandal mengenai Presma yang menghilang pun masih melekat dalam ingatan, hari ini Jumat (27/11) mahasiswa diharuskan untuk memilih Presma yang baru. Di masa pandemi, pemilihan Presma dilakukan secara online. E-Voting menjadi jalan alternatif untuk menyelenggarakan pemira jika dilihat dari segi keefektifan dan keefisienannya.

Sebelum hari pencoblosan, mahasiswa seolah-olah terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu aktivis dan kubu apatis. Aktivis berteriak paling kencang mengenai pemira, mulai dari teriakan dilarang golput sampai kampanye paslon pilihan masing-masing. Sedangkan si apatis masih istiqomah dengan sikap diamnya dan memilih untuk “bodo amat”. Namun apakah memang benar mereka yang bersikap bodo amat karena tak peduli dengan hajatan sekali setahun ini atau karena sosialisasi pemira yang kurang efektif?

Sosialisasi PEMIRA

Hari pemilihan sudah di depan mata, namun antusiasme dari mahasiswa belum nampak, baik dari mahasiswa pengabdi skripsi semester akhir ataupun dari mahasiswa baru. Menurut pernyataan beberapa mahasiswa UPGRIS selama ini penyebaran informasi dirasa kurang spesifik karena  lebih sering menggunakan WhatsApp, seperti penyebaran pamflet.  Sehingga tidak menutup kemungkinan tak terbaca oleh banyak mahasiswa bahkan ada yang enggan peduli dengan informasi tersebut. Meskipun pernah diadakan forum khusus untuk pengenalan pemira tetapi hanya sekali dan itu tidak diikuti semua mahasiswa dikarenakan jam sosialisasi yang bentrok dengan kegiatan lainnya.

“Kalo menurutku si mungkin kurangnya sosialisasi dari panita ya, karena tidak adanya pengenalan setiap kelas secara menyeluruh dan memang kondisinya juga masih seperti ini” Jelas Fara, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Jawa. Menurutn dia, baiknya  KPRM sebagai penyelenggara PEMIRA mengadakan forum khusus beberapakali yang bisa diikuti seluruh mahasiswa UPGRIS, agar mahasiswa lebih menegenal pemira dan calon-calonnya sehingga pada pemira mahasiswa bisa memilih calon yang tepat. Selain itu, akun instagram KPRM sendiri terpantau sepi dan sedikit mengupload postingan terkait PEMIRA.

Mengetahui banyak mahasiswa yang kurang setuju dengan sistem emira tahun ini, KPRM pun memberi tanggapan akan hal tersebut.  “Untuk sosialisasi secara online saya rasa dari KPRM sudah maksimal, kami yang dibantu oleh KPRMW dan PPRM sudah menembungi kontak-kontak komting perkelas sesuai dengan jurusan masing-masing untuk melakukan sosialisasi” Jelas Eno, anggota KPRM.

Eno menjelaskan bahwa menghubungi setiap komting untuk sosialisasi pemira tidaklah mudah. KPRMW melaporkan bahwa beberapa kontak komting sulit dihubungi, dan untuk menanggulangi hal itu kami dari KPRM dan panitia Pemira membuat video sosialisasi pencoblosan. Tujunnya untuk memudahkan semua mahasiswa dalam melakukan pencobloan via online, sehingga kelas-kelas yang belum sosialisasi dapat mendapatkan informasi mekanisme pencoblosan melalui video tersebut.

Namun jika kemungkinan mahasiswa bertanya apakah memungkinkan peluang terjadinya kecurangan? Pihak KPRM tidak dapat memastikan, namun dalam  segala sistem politik kemungkinan dapat terjadi. Dalam pemira sendiri ada Panwasra (Panitia Pengawas Pemira) yang bertugas untuk mengawasi jalnnya pemira dari awal sampai akhir.

Tanggapan Capresma

Sesuai dengan UU PEMIRA, karena paslon tunggal maka sistematika menggunakan pilihan setuju dan tidak setuju. Jika suara dimenangkan oleh kotak setuju, maka mahasiswa berhasil memiliki presiden yang baru. Namun, jika suara dimenangkan oleh kotak tidak setuju maka para mahasiswa harus bersabar menunggu keputusan dari DPM selaku pembuat UU.

Arfanda, selaku calon Presma  beserta tim suksenya merasa optimis terhadap perolehan suara yang akan didapatkan. Menurut Arfanda bagaimanapun hasilnya, jika pelaksanaan pemira sesuai aturan dan mekanisme yang berlaku ia berharap itu dapat membawa angin perubahan untuk UPGRIS yang lebih baik. “Terkait hal (hasil pemira) tersebut tentu saja saya dan rekan-rekan timses optimis mengenai hasil yang didapat” tutur Arfanda melalui pesan teks.

Kontestasi pemira tahun ini terasa lesu jika dibandingkan dengan pemilihan pada tahun lalu. Selain karena pandemi, tidak adanya saingan alias paslon tunggal memberi pengaruh yang signifikan. Meskipun demikian siapapun nanti yang akan menjadi pemenang harapannya memiliki kredibilitas yang tinggi sebagai pemimpin.  Apapun hasilnya, semoga para petinggi mahasiswa ini dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar “menyelesaikan” tugasnya saja. Hidup Mahasiswa!

Reporter          : Roro Qothrin Nida, Asri Widiastuti

Editor              : Cucianingsih