Hutan Pinus Gunungsari, Jadi Pilihan Tempat Festival Budaya Warga Lereng Muria

Sumber : Vokalpers

Weekend memang identik dengan hari yang diisi dengan jalan-jalan. Tak heran jika kendaraan di jalanan terlihat lebih ramai dari biasanya. Namun, berbeda dengan kondisi saat ini. Alih-alih karena pandemi, masyarakat lebih memilih untuk berada di rumah atau memilih tempat wisata yang aman untuk dikunjungi. Salah satunya di pegunungan, yang mana pengunjungnya tidak terlalu ramai. Kemarin, kami awak Vokalpers mengunjungi salah satu tempat wisata alam, tepatnya di Hutan Pinus Gunungsari yang berada di Desa Pangonan Pati, Jawa Tengah.

Kawasan hutan pinus ini menyuguhkan pemandangan alam yang memanjakan mata. Jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok, pepohonan yang menjulang tinggi, dan hamparan sawah yang terbentang luas nan hijau menyejukkan mata kian menambah keseruan kami selama perjalanan. Untuk menuju kawasan objek wisata ini, lebih mudah dijangkau oleh kendaraan beroda dua seperti motor. Jarak antara parkiran motor dengan pusat tempat wisatanya sendiri memang terhitung jauh, karena jalanan terjal dan becek. Ada sebagian pengunjung yang memilih untuk berjalan kaki, ada juga yang memilih tetap berkendara motor untuk menuju ke sana.

Kami sengaja mengunjungi tempat ini bersamaan dengan diselenggarakannya acara Artsotika Muria II. Hutan Pinus Gunungsari menjadi tempat pilihan untuk diselenggarakannya acara Artsotika Muria tahun ini. Artsotika muria sendiri merupakan festival kebudayaan berbasis konservasi yang dikelola secara swadaya oleh jaringan masyarakat di lereng Muria. Acara ini digelar satu tahun sekali. Tahun ini adalah tahun kedua diselenggarakannya Artsotika Muria. Di sana terlihat banyak pengunjung yang ikut dalam memeriahkan acara. Diantaranya ada beberapa komunitas pecinta alam, paguyuban, seniman, dan masyarakat sekitar yang turut aktif dalam kegiatan festival budaya sejak kali pertama diadakannya acara Artsotika Muria.

Tujuan diadakannya acara ini tak lain merupakan bentuk upaya untuk memelihara Gunung Muria sebagai cagar alam biosfer yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sejak 28 Oktober 2020. Dalam acara merawat Muria ini, semakin nyata dengan diadakannya penanaman pohon di sekitar kawasan Hutan Pinus Gunungsari. Para pengunjung turut mengambil bibit-bibit tanaman yang sudah disediakan panitia untuk kegiatan aksi tanam pohon ini.

Artsotika Muria tidak hanya mengadakan aksi tanam pohon untuk memeriahkan acara. Beberapa diantaranya seperti melukis on the spot, parade penyair muria, penanaman pohon, orasi budaya, sarasehan budaya, wayang kali dan perform art. Acara berlangsung dengan lancar, sebagian  pengunjung terlihat sesekali menikmati berbagai macam spot foto yang ada di kawasan Hutan Pinus Gunungsari dengan berlatar belakang pemandangan lepas yang kian membuat para pecinta foto semakin betah berpose.

Dengan diselenggarakannya acara ini, masyarakat bisa lebih peduli dengan merawat lingkungan sekitar. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh sang budayawan, Widyo Babahe Laksono “Harapannya masyarakat terbuka pemikiran, wawasan, dan wacananya terhadap gunung dan lingkungan ini perlu kita rawat. Kita tidak memikirkan hari ini. Tapi, kita berfikir pada anak cucu kita nanti.” Ujarnya. Hutan Pinus Gunungsari merupakan bagian dari Muria. Oleh karena itu, Artsotika Muria hadir menjadi salah satu wadah bagi masyarakat supaya Gunung Muria dan lingkungan sekitar tetap lestari.

Penulis : Annisa Rahmasari