Kisah Manusia Berkepala Dua di Angkringan

Vokalpers – Lukisan unik yang mencuri banyak perhatian orang saat berkunjung di angkringan yang berlokasi di Gunung Pati Semarang. Terpampang jelas lukisan manusia berkepala dua disebuah angkringan yang pada umumnya hanya menjual makanan.

Lukisan tersebut di olah pemuda asli Gunung Pati Semarang, yaitu Krisna. Dalam lukisan tersebut terlihat seorang manusia berkepala dua, mempunyai empat tangan dan sedang duduk dikursi dengan kaki yang menginjak hewan dan tanaman.

Dia mengungkapkan arti dari lukisan tersebut sebagai bentuk dari keegoisan manusia, karena manusia hidup berdasar pada egonya sehingga untuk bertahan hidup manusia juga memerlukan sifat egoisme.

“Jadi nek binatang punya naluri untuk bertahan hidup, manusia itu naluri untuk bertahan hidupnya dengan ego. Apapun yang dilakukan harus memenuhi kehidupannya dengan segala cara, itu egoisme. Manusia juga butuh egoisme karena itu merupakan puncak rantai dari  segala ekosistem yang ada di Dunia,” tutur Krisna saat di Angkringan Sky Gunung Pati. Minggu (27/3/2022).

Ia juga mengungkapan bahwa tujuan awal membuat lukisan tersebut karena panggilan pameran yang diselenggarakan oleh Kelompok Histeria Semarang pada bulan September 2020 lalu, dengan tema kebahagiaan. Terfikir ide untuk membuat lukisan tersebut karena Krisna menganggap puncak kebahagiaan manusia adalah ketika ia mencapai egoismenya.

“Aku mendefinisikan kebahagiaan itu sebagai : manusia bahagia ketika ia bisa memenuhi egoismenya,” ungkap si pelukis.

Tak hanya itu, Ia juga menjelaskan arti dari semua visual yang terdapat dalam lukisannya. Empat tangan yang artinya rakus, harus memenuhi segala keegoisannya dan kepuasan pribadinya, dari empat tangan tersebut satunya membentuk simbol semoga sukses yang artinya aktualisasi  pengakuan diri, yang satu memegang botol berisi air artinya harus memenuhi kebutuhan akan perutnya, yang satunya memegang benda disekitarnya artinya kebutuhan untuk memiliki segala materi, lainnya memegang rokok yang artinya untuk memenuhi segala kebutuhan emosionalnya dan berkepala dua yang artinya manusia harus multi tasking.

Dari keseluruhan gambar, pelukis ingin menceritakan bahwa manusia berada diatas puncak ekosistem, karena manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya.

“Manusia itu punya kesadaran bahwa dirinya adalah manusia, berbeda dengan hewan, misalnya kucing ia  tidak bisa menyatakan dirinya adalah kucing. Oleh karena itu manusia perlu memiliki keegoisan untuk mencapai kebahagiaan,” ucap si Pemuda Asal Gunung Pati tersebut.

Krisna mengaku menyelesaikan lukisannya seorang diri,  dari pencetusan ide hingga finishing Ia selesaikan dalam kurun waktu satu bulan pada bulan juli 2020.

 “Dari proses pencetusan ide, pembuatan sketsa, hingga finishing memerlukan waktu satu bulan,” tuturnya.

Dalam proses pembuatan lukisan ini pertama-tama krisna menggambar sketsa di kertas kemudian ditempelkan pada kanvas, selanjutnya ia menggunakan cat basah untuk menorehkan warna pada lukisannya. Krisna mempersiapkan lukisan tersebut jauh-jauh hari sebelum acara pemeran terlaksana, yaitu tanggal 12 September 2020.

Selain untuk memenuhi panggilan pameran,  menyelesaikan lukisan tentu saja memberikan kepuasan tersendiri bagi pemeran seni, lukisan tersebut juga mendapat banyak tanggapan dari apresiator.

“Tentu saja menimbulkan kepuasan pribadi. Bisa menyelesaikan lukisan ini, memenuhi panggilan pameran, dan menanggapi fenomena yang diberikan oleh penyelenggara pameran. Dari apresiator juga menanggapi itu berbagai macam, ada yang suka dan ada yang tidak suka begitu,” ungkap si pembuat lukisan.

Penulis : Asri Widiastuti