Hingar Bingar Permira Apakah Mahasiswa Peduli?

Vokalpers.com-Pemilihan Raya Mahasiswa (permira) merupakan sebuah mekanisme demoraksi yang terselenggara di lingkungan kampus, terutama dalam ranah mahasiswa untuk menggunakan suaranya dalam memilih seorang pemimpin. Serangkaian kegiatan pemira di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dilakukan sejak November sampai Desember dari masa kampanye sampai hari H, yaitu penggunaan hak pilih mahasiswa. 

UPGRIS menggelar permira untuk memilih siapa saja yang menjadi tapuk kepemimpinan di tingkat universitas. Ada istilah bahwa universitas sebagai miniatur suatu negara, salah satunya trias politika dalam konsep negara yang diaplikasikan dalam lingkup universitas. Permira di UPGRIS dilaksanakan untuk menentukan presiden mahasiswa beserta wakilnya, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Lembaga Keuangan Mahasiswa (LKM). 

Peserta dari permira tahun 2022 ini merupakan mahasiswa yang sebelumnya aktif di organisasi mahasiswa (Ormawa) ataupun lembaga mahasiswa (Lemawa). Meski sudah menjadi rutinitas dalam setiap tahunnya, permira tidak pernah kehilangan daya tariknya untuk sebagian mahasiswa. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata juga banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan kegiatan permira. Kurangnya antusiasme mahasiswa terhadap permira apakah timbul dari rasa apatisme mahasiswa tentang perpolitikan di UPGRIS? Atau mungkin karena mahasiswa menganggap ada atau tidaknya permira kurang berdampak bagi mahasiswa?

Berdasarkan data yang dihimpun oleh awak Vokal dari hasil permira UPGRIS tahun 2022, suara mahasiswa yang mempergunakan hak pilihnya 6.647 mahasiswa, sedangkan mahasiswa yang tidak mempergunakan hak pilihnya berkisar 6.657. Jika dibuat presentase, maka 49.96% mahasiswa yang memilih dan mahasiswa yang tidak memilih 50.04%. Dalam permira tahun 2022 ini pasangan calon (Paslon) nomor urut 1 lebih unggul dari paslon nomor urut 2. Dengan perolehan suara untuk paslon nomor urut 1 yaitu 3.364 atau 55.12%, sedangkan untuk paslon nomor urut 2 dengan suara 2.983 atau 44.88%. Berdasarkan data di atas, kita bisa melihat suara mahasiswa yang memilih tidak ada setengah dari jumlah keseluruhan mahasiswa UPGRIS. 

Penyebab utama rendahnya partisipasi mahasiswa UPGRIS dalam pemira dipengaruhi oleh hilangnya rasa percaya terhadap lembaga tinggi mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang ditemui oleh awak Vokal menyampaikan bahwa hasil dari Permira tidak ada dampak bagi mahasiswa.  “Setiap tahun tidak ada perubahan hasil Permira. Entah itu dari segi apa pun. Gak ada perubahan apa pun yang berdampak pada mahasiswa. Mereka hanya mengumbar janji-janji belaka,” ujar salah satu narasumber yang enggan disebut identitasnya.

Uniknya dari proses pemilihan ini melibatkan website pembelajaran yang digunakan untuk mahasiswa. Sebagian mahasiswa tidak dapat mengakses website tersebut dikarenakan tidak turut andil dalam permira. Suatu langkah yang keliru jika website penunjang pembelajaran mahasiswa disatukan dengan akses permira tanpa sepengetahuan dan wawasan yang cukup. Pada akhirnya mahasiswa hanya mengikuti arus dalam menggunakan hak suara mereka. Sungguh sangat disayangkan, hal tersebut akan berdampak fatal nantinya.

Jika menilik dinamika permira tahun ini, sekilas memang tidak ada yang istimewa dalam terselenggaranya acara permira ini. Salah satu mahasiswa UPGRIS saat ditanyai perihal tanggapannya tentang permira tahun 2022, dia mengaku tidak merasakan keberadaannya selama kuliah 3 tahun di UPGRIS. Kekecewaan dialaminya saat hendak mengajukan suara untuk Kongres namun justru dilarang. “Tidak ada tanggapan karena memang sungguh saya bodo amat dengan mereka. Selama hampir 3 tahun kuliah di UPGRIS yang di mana sekarang saya telah bersinggah di semester 7. Saya benar-benar tidak merasakan keberadaannya, apalagi manfaat mereka. Tahun kemarin saya sebagai mahasiswa umum dilarang memberikan suara untuk kongres. Lantas apa alasannya saya harus memberikan suara saya ketika Permira? Kalau bukan selain untuk urusan perkuliahan,” ujar salah satu narasumber dari Prodi PBSI yang enggan disebut identitasnya.

Ini yang ditakutkan akan terjadi, mahasiswa tidak memilih karena ingin berpartisipasi atau menunjukkan antusiasnya pada perpolitikan kampus, namun justru memilih karena terdesak dengan tugas kuliah. Hal ini akan membutakan mahasiswa pada esensial pemira UPGRIS karena mahasiswa akan cenderung menggunakan hak pilihnya tanpa kesadaran kepentingan politik kampus. Mahasiswa hanya memilih kandidat untuk keperluan akses website pembelajaran saja tanpa tahu apa gunanya memilih kandidat-kandidat tersebut. “Saya memilih mereka secara acak asal tebang supaya bisa mengumpulkan penugasan kuliah di laman SIP karena saya sungguh tidak mengetahui kedua pasangan paslon kandidat presma dan wapresma, apalagi visi misi mereka,” ujar salah satu narasumber dari Prodi PBSI.

Penulis : Yasin Fajar A, Radit Bayu Anggoro
Editor: Muh. Lukmanul Chakim